Showing posts with label Agus Yulianto. Show all posts
Showing posts with label Agus Yulianto. Show all posts

Wednesday, 25 February 2015

OPINI: Memimpikan Sekolah Ramah Anak oleh Agus Yulianto di Joglosemar (Rabu, 25/02/2015)

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Agus Yulianto
Guru PAI SDIT Insan Cendekia Boyolali
Anggota IGI Soloraya

Joglosemar (Rabu, 25/02/2015)

Dalam beberapa hari terakhir ini media massa, baik media cetak maupun elektronik gencar memberitakan tentang kekerasan yang terjadi di sekolah, khususnya bullying (kekerasan) yang dilakukan oleh siswa maupun guru.  Kekerasan yang dilakukan tersebut telah keluar dari nilai-nilai kemanusian dan mencoreng tujuan mulia pendidikan.

Tragedi kekerasan yang berujung pada penahanan pelaku bullying  telah mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Betapa tidak, sekolah yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah (pendidikan budi pekerti) dan juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter, telah dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertangungjawab dan tidak memahami arti dari sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini, bukan hanya sekolah sebagai institusi  pendidikan yang namanya akan tercemar, kepala sekolah, guru, siswa bahkan orangtua pelaku juga akan menjadi jelek di mata masyarakat. Kekerasan di sekolah atas nama apapun seharusnya tidak terjadi.

Kekerasan pada dasarnya dapat digolongkan  dalam dua bentuk ; Pertama, kekerasan dalam bentuk sederhana atau bersifat spontanitas, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, seperti menempeleng atau meninju seseorang secara spontan akibat marah atau emosi yang tidak terkendali; Kedua, kekerasan yang terkoordinir atau terencana, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antarmasyarakat) dan terorisme (Bashori, 2010: 69-70).

Beberapa penelitian menyebutkan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta sebagai kota yang sering terjadi tindak kekerasan di lingkup sekolah. Akhir-akhir ini yang sering disoroti oleh media tindak kekerasan yang terjadi di beberapa sekolah/madrasah yang ada di Kota Solo. Kalau kita ketahui data dari hasil penelitian LSM perlindungan anak menyebutkan bahwasannya kekerasan terhadap anak paling tinggi dilakukan dalam lembaga pendidikan.

Menurut Ketua  Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak)  Arist Merdeka Sirait menyatakan kasus kekerasan seksual terhadap anak marak terjadi di sekolah. “Persentasenya nomor dua setelah rumah.” Kesimpulan tersebut ia dapat dari data kasus aduan kekerasan terhadap anak selama 2012. Dari 2.637 aduan yang masuk, sekitar 60 persennya merupakan kasus kekerasan seksual  (Tempo, 4/3/ 2013).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 kemarin terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di sekolah hingga lebih dari 10 persen. Wakil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  Apong Herlina mengatakan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi dalam berbagai jenis baik itu dilakukan oleh guru  maupun antarsiswa. Kasus kekerasan itu juga terjadi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Catatan ini didasarkan pada hasil survei KPAI di sembilan provinsi terhadap lebih dari 1.000 orang pelajar. Baik dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA. Survei ini menunjukkan 87,6 persen siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam. Dan sebaliknya 78,3 persen anak juga  mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat (komnaspa.or.id). Sungguh ironis sekali ternyata lembaga pendidikan kita masih belum meminimalisasi terjadinya kekerasan di sekolah?

Kebijakan
Merujuk pada hasil riset dari KPAI tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). Sekolah seharusnya menjadi tempat yang begitu menyenangkan bagi anak, karena di lembaga pendidikan inilah anak-anak akan dididik untuk saling mengenal, menyayangi satu dengan yang lain bukan untuk bermusuhan atau saling menindas. Dalam hal ini siswa senior harus dapat membimbing dan mengarahkan juniornya menjadi lebih baik. Sebaliknya siswa junior juga harus bisa menghargai dan menghormati seniornya.

Di sinilah peran guru sangat menentukan dalam menciptakan keharmonisan hubungan antarsiswa. Dengan melihat kondisi itu pemerintah diharapkan agar segera menerbitkan kebijakan sekolah ramah anak di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Sehingga, ke depan sekolah tidak hanya menjadi lembaga yang berorientasi pada pencapaian target kurikulum tapi penyelenggaraannya juga menghormati HAM dan prinsip perlindungan anak.

Menurut  penulis, tindakan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya karena kondisi sekolah yang kurang nyaman dan juga kurikulum sekolah.  Untuk mewujudkan hal tersebut, banyak hal yang harus dipenuhi di antaranya selalu mengajak anak berpartisipasi dalam memutuskan setiap kebijakan sekolah misalnya dalam hal penyusunan tata tertib sekolah atau jenis hukuman bila mereka melanggar.

Selain itu, sarana dan prasarana yang ada di sekolahpun harus dipenuhi. Pendidik juga mempunyai peran yang sangat signifikan, mereka harus mampu menjadi pendidik yang ramah terhadap  anak dan mampu  menjadi fasilitator yang baik bagi anak didiknya. Sementara anakpun harus dinilai sikap dan perilakunya ketika mereka berinteraksi dengan temannya pada saat istirahat.

PAI Sebagai Alternatif
Berbagai fakta di atas, mengindikasikan bahwa pendidikan belum mempunyai peran signifikan dalam proses membangun kepribadian generasi bangsa yang berjiwa demokratis dan berwatak humanis. Pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan justru melunturkan maknanya itu sendiri.

Pendidikan yang semestinya menanamkan sikap toleransi, kepedulian terhadap sesama, kesadaran tentang perbedaan, adanya kesamaan hak serta kewajiban, kebebasan berpendapat dan sebagainya, justru mengebiri makna kebebasan dan mengasung kemerdekaan peserta didik. Akibatnya, Mereka menjadi robot zaman yang telah kehilangan hati nurani dan perasaan ( Haryanto Alfandi,2011:203). Dalam hal ini dibutuhkan sekali peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) karena  PAI merupakan alternatif solusi untuk membentuk karakter peserta didik yang beriman dan bertakwa. Persoalannya adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran yang benar-benar dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia di kalangan peserta didik?

Pembinaan akhlak tidak cukup hanya dilakukan oleh guru PAI melalui mata pelajaran yang diampunya di sekolah yang hanya dilaksanakan dua jam per minggunya. Akan tetapi, diperlukan integrasi antara nilai-nilai keimanan dan ketakwaan pada mata pelajaran PAI dengan mata pelajaran lainnya, atau yang kemudian disebut dengan mata pelajaran umum.

Proses ini secara psikologis akan memperkaya dan memperdalam bahan ajar. Persoalannya terletak pada strategi mana yang hendak dipergunakan guru dalam mengintergrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam mata pelajaran yang diampunya. Dengan adanya integrasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam mata pelajaran umum, maka pembinaan tanggung jawab akhlak peserta didik adalah tanggung jawab semua guru mata pelajaran, bukan hanya tanggung jawab guru PAI.

Proses integrasi ini pun harus berjalan secara alamiah, tidak melalui proses yang mengada-ada. Proses integrasi bukan berarti setiap pokok bahasan harus dilegalkan dengan ayat-ayat Alquran, melainkan dari setiap pokok bahasan tersebut diambil hikmah yang dapat diambil peserta didik bagi kehidupannya. Melalui integrasi materi pembelajaran akan tercipta karakter yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unsur agama Islam yang pada gilirannya akan melahirkan budi pekerti.

baca selengkapnya »

Thursday, 29 January 2015

Buku Layak Anak oleh Agus Yulianto di Solopos (Sabtu Pon, 24/01/2015)

Dimuat Solopos (Sabtu Pon, 24 Januari 2015)
Kolom Didaktika


Oleh Agus Yulianto, S.Pd.I
Guru SDIT Insan Cendekia, Boyolali

Seperti yang kita ketahui seorang anak belum dapat memilih bacaan anak yang baik untuk dirinya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tidak pedulikan cocok atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memilih bacaan yang sesuai dengan perkembangan ke-dirian-nya, sebagai orang tua atau guru harus peduli dengan memberikan konsumsi buku bacaan yang tepat. Namun demikian, pemilihan bacaan anak haruslah tidak dilakukan secara serampangan atau berdasarkan selera subjektif dan kacamata orang dewasa. Bagaimanapun yang berkepentingan dalam hal ini adalah anak, maka kebutuhan anak harus menjadi kriteria pertama yang dijadikan pegangan. Pemilihan bacaan harus mempertimbangkan hal-hal tertentu yang telah diakui ketepatannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
            Untuk itu, kita harus berfikir kritis memilihkan bacaan cerita anak yang sesuai dan efektif buat anak, bacaan yang baik dan sengaja ditulis untuk konsumsi anak-anak. Hal itu berarti bahwa kita, guru dan atau orang tua, haruslah memahami struktur dan bentuk buku bacaan, sebagaimana halnya kita memahami perkembangan cara berfikir anak, perkembangan emosional, sosial, dan bahasa, serta perubahan kriteria. Singkatnya, kita haruslah mempunyai kemampuan untuk memilih secara tepat bacaan-bacaan yang dimaksud dengan mempergunakan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Persoalannya kini adalah tema dan moral apa yang baik untuk buku-buku anak? Dewasa ini memperoleh bacaan anak amat mudah. Di toko-toko buku tersedia beragam dan banyak buku bacaan anak yang disediakan pada rak-rak khusus. Buku-buku bacaan anak yang dimaksud terdiri dari berbagai genre, baik yang merupakan karya asli berbahasa Indonesia maupun karya-karya terjemahan, atau karya yang terdiri dari dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Buku-buku tersebut banyak yang sudah menunjuk dirinya untuk dipakai pada anak usia tertentu atau kelas tertentu sehingga kita tinggal memilih sesuai dengan keadaan anak yang akan diberi bacaan itu. Untuk bacaan anak usia awal sekolah pun banyak buku-buku bergambar yang ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Misalnya, buku Knowing ABC, Mengenal Huruf sambil mewarnai (usia 5-6 tahun) karya Mondy Risutra yang berisi gambar-gambar binatang dan aktivitas tertentu. Dengan demikian, lewat buku dan bantuan kita, anak sekaligus dapat belajar bahasa Inggris secara langsung dalam konteks bacaan cerita yang menarik.  Buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia, selain yang merupakan karya kreatif, dalam arti karya asli para pengarang yang bersangkutan, juga banyak beredar buku-buku kumpulan dongeng dari berbagai pelosok tanah air di Indonesia. Misalnya buku-buku kumpulan dongeng berjudul Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan Cerita Rakyat dari Surakarta, keduanya merupakan karya Bakdi Sumanto.
            Artinya, dewasa ini anak-anak kita benar-benar dimanjakan dengan ketersediaan bacaan anak-anak demikian banyak pilihan bacaan yang beragam. Buku-buku tersebut, terutama yang berbentuk majalah, atau yang berupa kolom di surat kabar, pada umumnya tidak hanya memuat cerita-cerita, melainkan juga berisi berbagai hal penting yang perlu diketahui anak untuk memperkaya wawasan yang sengaja ditulis dengan kacamata anak yang berwujud tulisan-tulisan nonfiksi. Dengan buku-buku inilah anak-anak layaknya seperti manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar.Pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca ini akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang. Tugas kita adalah mengarahkan dan mengajak serta memberikan contoh kepada mereka untuk membaca dan membaca.

baca selengkapnya »

Saturday, 3 January 2015

Dilema Pendidikan Anak

Pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis dalam mencetak generasi masa depan yang berkualitas, memiliki keimanan yang kokoh, kepribadian yang unggul, menguasai sains dan teknologi yang mampu mengarahkan masa depan suatu Negara menjadi lebih maju. Dalam lintasan sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya dimasa datang dan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat.
 
Dengan demikian pendidikan yang berhasil akan mampu melahirkan manusia yang memiliki kepribadian unggul (Islami) yang merupakan manifestasi dari pemahaman dan keyakinan aqidah Islam. Akan tetapi, di eraglobalisasi saat ini sering terjadinya kekerasan terhadap anak. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai macam kasus kekerasan yang merebak dalam dunia pendidikan, kasus pelecehan kekerasan seksual terhadap peserta didik, yang merupakan potret buram dari rendahnya produk pendidikan di Indonesia.
 
Tidaklah menjadi suatu hal yang baru lagi apabila banyak kalangan yang menilai jika pendidikan yang berlangsung selama ini masih jauh dari nilai-nilai demokratis dan humanisme. Bahkan, dapat dikatakan jika pendidikan secara tidak disadari telah mengalami proses de-humanisasi dan de-demokrasi. Dikatakan demikian karena pendidikan telah mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi yang dikandungnya. (Haryanto Al Fandi, 2011:203).
 
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di sekolah hingga lebih dari 10 persen. Wakil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Apong Herlina mengatakan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi dalam berbagai jenis baik itu dilakukan oleh guru maupun antar siswa. Kasus kekerasan itu juga terjadi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Catatan ini didasarkan pada hasil survey KPAI di 9 propinsi terhadap lebih dari 1000 orang siswa siswi. Baik dari tingkat Sekolah Dasar/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA.
 
Survey ini menunjukan 87,6 persen siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam. Dan sebaliknya 78,3 persen anak juga mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat (http://fauzulandim.blogspot.com/2012/09/sekolah-ramah-anak.html)
 
Merujuk pada hasil riset dari KPAI tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). Meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan, akan tetapi kekerasan justru sering lahir dari tempat ini. Hal tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan makna sekolah itu sendiri, yaitu sebagai tempat untuk belajar, bukan tempat untuk melakukan kekerasan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat begitu menyenangkan bagi anak, karena di lembaga pendidikan inilah anak-anak akan di didik untuk saling mengenal, menyayangi satu dengan yang lain bukan untuk bermusuhan atau saling menindas.
 
Sekolah seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah (pendidikan budi pekerti) dan juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter, telah dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertangungjawab dan tidak memahami arti dari sebuah proses pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan justru melunturkan makna humanisme itu sendiri.
 
Pendidikan yang semestinya menanamkan sikap toleransi, kepedulian terhadap sesama, kesadaran tentang perbedaan (pluralisme), adanya kesamaan hak serta kewajiban, kebebasan berpendapat dan sebagainya, justru mengebiri makna kebebasan dan memasung kemerdekaan peserta didik. Akibatnya, apresiasi output pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, demokrasi, keluhuran budi, dan hati nurani menjadi nihil (Haryanto Al Fandi,2011:203). Dalam hal ini bukan hanya sekolah sebagai institusi pendidikan yang namanya akan tercemar, kepala sekolah, guru, siswa bahkan orang tua pelaku juga akan menjadi jelek di mata masyarakat. Kekerasan di sekolah atas nama apapun seharusnya tidak terjadi.

Metode Pendidikan Anak dalam Islam
Imam al-Ghazali mengatakan, Anak adalah amanat di tangan kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu. Apabila dibiasakan dan diajari dengan kebaikan, maka dia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Dampaknya kedua orangtuanya akan hidup berbahagia di dunia dan di akhirat.(Muh. Nur Abdul Hafizh Suwid, 2009: 46). Berdasarkan apa yang dikatan oleh Imam Al-Ghazali bahwa kedua unsur Bapak dan Ibu sangatlah penting. Mereka berdua mengirimkan anak untuk menempuh pendidikan di sekolah-sekolah khusus atas nama belajar dan menuntut ilmu.
 
Menurut Abdullah Nashih ‘ulwan (2012:135) sebuah pendidikan dikatakan baik menurut pandangan Islam ketika menyandarkan pada kekuatan perhatian dan pengawasan. Maka sudah seharusnya para orang tua, pendidik, dan siapa saja yang menjadi pemerhati pendidikan dan moral untuk menghindarkan pada anak-anaknya empat hal dan harus diberikan perhatian serius karena termasuk perbuatan paling buruk, yaitu: (1) Gemar berbohong, (2) Gemar mencuri, (3) Gemar mencaci dan mencela, dan (4) Kenakalan dan penyimpangan. Oleh karena itu, dalam mendidik seorang anak dalam Islam ada beberapa metode yang bisa diterapkan. Muhammad Nur Abdul Hafizh (2009:139) ada beberapa metode pendidikan anak dalam Islam yaitu:
(a) Menampilkan Suri Teladan yang Baik;Suri teladan yang baik memiliki dampak yang besar pada kepribadian anak. Sebab, mayoritas yang ditiru anak berasal dari kedua orangtuanya/pendidik. Bahkan, dipastikan paling dominan berasal dari kedua orangtuanya. Rasulullah Shallahu’alayhi wa Sallam memerintahkan kedua orangtua untuk menjadi suri teladan yang baik dalam bersikap dan berperilaku jujur dalam berhubungan dengan anak.
(b) Mencari Waktu yang Tepat untuk Memberi Pengarahan.Sebagai pendidik harus memahai bahwa memilih waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepada anak-anak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil nasihatnya.
 
Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam selalu memerhatikan secara teliti tentang waktu dan tempat yang tepat untuk mengarahkan anak, membangun pola pikir anak, mengarahkan perilaku anak, dan menumbuhkan akhlak yang baik pada diri anak. Ada tiga waktu mendasar dalam memberi pengarahan kepada anak; (1) Dalam perjalanan; ini menunjukan bahwa pengarahan Nabi Shallallahu’alayhi wa sallam dilakukan di jalan ketika keduanya sedang melakukan perjalanan, baik berjalan kaki ataupun naik kendaraan. Pengarahan ini tidak dilakukan dalam kamar tertutup, tetapi di udara terbuka ketika jiwa si anak dalam keadaan sangat siap menerima pengarahan dan nasihat. (2) Waktu makan; pada waktu ini, seorang anak selalu berusaha untuk tampil apa adanya. Sehingga, terkadang dia melakukan perbuatan yang tidak layak atau tidak sesuai dengan adab sopan santun di meja makan.
 
Apabila kedua orangtuanya tidak duduk bersamanya selama makan dan meluruskan kesalahan-kesalahannya, tentu si anak akan terus melakukan kesalahan tersebut. Selain itu, apabila kedua orangtua tidak duduk bersama si anak ketika dia makan, kedua orangtua akan kehilangan kesempatan berupa waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepadanya. Nabi SAW ketika makan bersama anak-anak selalu memerhatikan dan mencermati sejumlah kesalahan. Kemudian beliau memberi pengarahan dengan metode yang dapat memengaruhi akal dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan. (3) Waktu anak sakit; anak-anak kecil yang sakit, ada dua keutamaan yang terkumpul padanya untuk meluruskan kesalahan-kesalahannya dan perilakunya bahkan keyakinannya, yakni keutamaan fitrah anak dan keutamaan lunaknya hati yang sakit.
 
Demikianlah ketiga waktu utama yang tepat untuk para pendidik dalam memberikan pengarahan kepada anaknya dan membangun kepribadiannya; yaitu dalam perjalanan, waktu makan dan ketika sedang sakit. Juga ditambahkan waktu-waktu lainnya yang diperkirakan sebagai waktu yang tepat bagi kedua orangtua untuk anak-anak mereka.
(c) Bersikap Adil dan Menyamakan Pemberian untu Anak. Sikap ini merupakan dasar bagi setiap orang tua yang dituntut untuk selalu konsisten dalam melaksanakannya agar mereka dapat merealisasikan apa yang mereka inginkan, yaitu bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak-anak. Karena, kedua hal ini memiliki pengaruh yang sangat besar sekali dalam sikap berbakti dan ketaatan anak.
(d) Menunaikan Hak Anak. Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Disamping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran, sehingga dengan demikian dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuannya untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.
(e) Larangan Mendoakan keburukan untuk anak. Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa ada seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarak untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Abdullah bin Mubarak bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah mendoakan keburukan atasnya?” Dia menjawab, “Benar.” Abdullah berkata,” Kalau begitu engkau telah merusaknya.” Daripada menjadi penyebab rusaknya anak dengan mendoakan keburukan padanya, lebih baik kita mendoakan kebaikan padanya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang mendoakan kebaikan bagi anak-anak, sehingga Allah memberkati masa depan mereka dengan amal saleh, harta benda dan anak yang banyak.
(f) Membelikan Anak Mainan; Pengakuan Rasulullah SAW terhadap mainan Aisyah ra menjadi bukti tentang pentingnya arti mainan bagi anak-anak dan kecintaan mereka pada benda-benda kecil yang berbentuk dan memiliki rupa. Memberikan mainan untuk anak-anak bertujuan untuk mulai menyibukkan pikiran dan indranya sehingga dapat tumbuh sedikit demi sedikit.
(g) Membantu Anak untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan. Mempersiapkan segala macam sarana agar anak berbakti kepada kedua orangtua dan menaati perintah Allah SWT dapat membantu anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaaatan serta mendorongnya untuk selalu menurut dan mengerjakan perintah.
(h) Tidak Suka Marah dan Mencela. Ketika seorang pendidik mencela anaknya,pada dasarnya dia sedang mencela dirinya sendiri. Sebab, bagaimanapun juga dialah yang telah mendidik anak-anaknya.
 
Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah telah menjelaskan bagi para orang tua, wali dan para pendidik akan metode ilmiah, dan dasar-dasar yang benar dalam pendidikan anak agar anak berakhlak yang lurus dan berkepribadian Islami.

Oleh : Agus Yulianto, S.Pd.I (Pemerhati Pendidikan Anak)

baca selengkapnya »

Wednesday, 27 August 2014

Tasbih Cinta

Oleh: Agus Yulianto
dakwatuna.com – Aku sudah tidak sanggup lagi hidup dalam kesendirian. Mengikuti arus waktu yang terus berjalan, setiap detik selalu ada perubahan. Aku termenung dalam kamar kosong menikmati arus waktu yang kulalui dengan segala perubahan yang terjadi. Alangkah cepat waktu berjalan.

Kini, emosiku berjalan pelan dalam darah tubuh yang mulai kuyu. Kutengadahkan kedua tangan dalam dzikir malamku. Selalu kusebut asma-Nya dalam setiap denyut nadiku. “Jadi apa yang hendak Aku sampaikan padaMu, Rabbi?” tanyaku dalam kegalauan. Kebimbangan diri masih menghiasi sisa kehidupanku. Sesuatu yang selama ini aku inginkan kini telah pergi jauh dalam hidupku. Kekasih malam ini kurajut asa dalam kepiluan. Menanti harapmu kembali dalam penantian panjangku. Mengukir cerita di atas pasir. Menyaksikan alunan senja di tepi pantai Parangtritis. Masih ingatkah kau ketika bercengkerama dengan panorama senja yang kau goreskan kuas warna-warna pikiranmu pada selembar kain kanvas? Begitu indah pemandangan senja itu kau katakan padaku. Ibarat seindah wajah sayumu. Jilbab putihmu melambai mengikuti arah mata angin yang begitu sejuk kurasakan serasa kumemandangmu. Masih kuingat dulu kau selalu bilang bahwa cinta yang kita rajut ini suci, yang akan menghantarkan kita dalam mahligai pernikahan. Tapi apa yang aku saksikan tak semanis yang aku rasa, aku kecewa. Kini kau bersanding dengan lelaki pilihan Ayahmu. Ketika cinta telah mekar dalam jiwa.

Malam itu masih teringat jelas apa yang kau katakan padaku ”Ren.. sampai kapan aku harus menunggu kepastian darimu? Ayah dan Ibuku selalu menanyakan kapan kau akan melamarku. Mereka malu mempunyai anak gadis semata wayang yang usianya kini sudah berkepala tiga. Setiap kali aku pulang dari kerja selalu menanyakan tentang dirimu.” Kata Apri sambil menyeka air matanya. Malam itu aku hanya terdiam. Nyaliku sebagai seorang laki-laki hilang untuk mengungkapkan kata ‘ya, aku akan melamarmu’. Sejak malam itu di serambi Masjid Agung Solo cinta kita kandas karna ketidakberanianku untuk meminangmu.

“Pri, aku pun tak mau hubungan ini berakhir begitu saja. Aku sudah melakukan apa yang aku bisa untuk mengikat mahligai cinta kita. Namun keluargaku sudah tidak mau memberikan restunya pada kita. Mungkin sudah jalan-Nya kita harus mengakhiri kisah perjalanan cinta kita. Ingatlah takdir cinta bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar.” ucapku padanya.

Penyesalan kini datang ketika takdir cinta sudah tak berpihak padaku. Hanya air mata dan kebisuan diri yang selalu menghiasi hari-hariku. Bukannya aku tidak ingin meminangmu, tapi ragaku sebagai lelaki yang tak mampu menjadikanmu pendamping hidupku. Meskipun aku menyesal telah melepaskanmu untuk selamanya, tapi rasa cinta ini masih ada untukmu. Aku tahu perjalanan dirimu untuk menjadi seorang muslimah. Kau wanita yang luar biasa berani menghijabkan diri untuk meraih cinta yang hakiki dari-Nya.

***
Hari Senin, 8 Mei 2013 aku menyaksikan dirimu bersanding dengan seorang lelaki gagah, tampan dan kaya. Aku melihat rona wajahmu yang penuh dengan kebahagiaan. Sempat aku membayangkan jika yang kau genggam jari jemarinya itu adalah Aku betapa bahagianya diriku. Nuansa putih nan suci menjadi hiasan di acara pernikahanmu. Lagu-lagu nasyid mengalun merdu dengan syair-syair cintanya. Begitu banyak tamu undangan dari keluarga besarmu dan teman sejawatmu turut bersuka cita di hari yang bahagia ini. Kuperhatikan setiap gerak gerik dirimu dan arah matamu berharap kau akan mencariku di antara ribuan tamu yang hadir. Setiap aku perhatikan seakan tak tersirat sedikitpun tentang diriku. Apakah mungkin engkau telah melupakan aku. Berat memang menerima kenyataan yang sangat pahit ini.

Aku coba langkahkan kaki untuk sekadar mengucapkan selamat kepadamu, tapi kakiku terasa berat dan dadaku terasa sesak. Air mataku pun jatuh tak terasa di hari bahagiamu. Sulit bagiku melepaskan jeratan cinta yang telah kita rajut dulu, Apri. Aku pejamkan mata di antara ribuan tamu undangan yang hadir. Nafas yang tinggal separuh kucoba hempaskan secara perlahan-lahan. Kuatkan diriku ya Allah.. Ikhlaskan hati ini untuk melepasnya. Meskipun hati terasa membeku dan sekujur tubuhku terasa mati rasa, air mataku jatuh tiada henti dan pikiranku hanya teringat tentang penyesalan-penyesalan yang hinggap dibenakku. Aku langsung berlari meninggalkan gedung mewah ini. Tak sanggup melihat dirimu bersanding dengan orang lain. Aku yakin kau masih mencintaiku. Tapi apa daya, diriku ternyata lemah untukmu.

Kubasuh wajahku dengan air wudhu dan kusujudkan diri yang lemah ini dihadapan-Mu. Inginku ucap rasa syukur atas apa yang telah terjadi pada kisah cintaku. Tapi bibir ini terasa kelu. Hanya suara isakan tangis menghiasi sepertiga malam ini. Aku ternyata belum dapat menjadi hamba yang ikhlas menerima takdir cinta-Mu, ya Allah. Aku mohon pada-Mu ikhlaskanlah diri ini untuk melepasnya dari kisah hidupku. Jangan kau penjarakan hati ini. Kuambil tasbihku. Kusebut nama-Mu tiada henti. Tasbih ini menjadi saksi bisu untuk melepas bidadari surgamu yang tak hinggap di jiwaku.

Tiga bulan semenjak kepergiannya dari sisiku, aku benar-benar menderita. Aku seperti orang gila. Air mataku tak pernah berhenti mengalir di setiap sujudku. Jari jemariku selalu bertasbih menyebut asma-Nya. Biar tenang jiwa ini. Aku tak bisa melupakannya sama sekali dari kehidupanku, bagaimanapun juga Apri pernah mengisi relung-relung hatiku. Hatiku juga tidak bisa berpindah ke perempuan lain. Aku masih mencintainya. Cintaku kepadanya menghapus semua kisah cinta yang pernah aku jalani. Begitu sulit diriku memunculkan cinta yang baru. Keindahan-keindahan saat bersama telah mematikan kenangan-kenangan yang tidak mudah untuk aku lupakan. Kepribadianmu memberikan warna tersendiri dalam kehidupanku. Seterang cahaya yang menyejukan mata setiap orang yang memandangmu. Cintamu telah membutakan mata batinku. Dan semua perempuan tak dapat aku beri ruang di setiap relung-relung jiwaku. Kala kau pergi dari jiwaku, aku tak putus dirundung kesedihan. Butiran-butiran tasbih selalu menguatkan hatiku, dalam setiap dzikir malamku.

baca selengkapnya »

Friday, 8 August 2014

Opini: Surakarta Kota Layak Anak Siapkah? oleh Agus Yulianto di Majalah Hadila (Edisi Agustus 2014)

Majalah Hadila (edisi Agustus 2014)
Oleh : Agus Yulianto, S.Pd.I
Pemerhati Pendidikan

 Beberapa hari terakhir, media massa gencar memberitakan tentang kasus kekerasan yang terjadi di sekolah, khususnya bullying (kekerasan) yang dilakukan oleh siswa maupun guru. Menurut saya tindakan tersebut  t telah keluar dari nilai-nilai kemanusian dan mencoreng tujuan mulia pendidikan.
Betapa tidak, sekolah yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah (pendidikan budi pekerti) dan juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter, telah dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertangungjawab dan tidak memahami arti dari sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini bukan hanya sekolah sebagai istitusi  pendidikan yang namanya akan tercemar, kepala sekolah, guru, siswa bahkan orang tua pelaku juga akan menjadi jelek di mata masyarakat. Kekerasan di sekolah atas nama apapun seharusnya tidak terjadi.
Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk ; Pertama, kekerasan dalam bentuk sederhana atau bersifat spontanitas, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, seperti menempeleng atau meninju seseorang secara spontan akibat marah atau emosi yang tidak terkendali; dan Kedua, kekerasan yang terkoordinir atau terencana, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti geng sekolah.
Merujuk hasil survey Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 di 9 provinsi (komnaspa.or.id), kasus kekerasan terhadap anak di sekolah meningkat hingga lebih dari 10 persen dari  tingkat SD-SMA. 87,6% siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam.  78,3 persen anak juga  mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat.
Merujuk pada hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). Hal tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan makna sekolah itu sendiri, yaitu sebagai tempat untuk belajar.
Dengan melihat kondisi tersebut pemerintah Surakarta, agar segera menerbitkan kebijakan sekolah ramah anak di seluruh sekolah di Indonesia. Sehingga kedepan sekolah tidak hanya menjadi lembaga yang berorientasi pada pencapaian target kurikulum tapi penyelenggaraannya juga menghormati HAM dan prinsip perlindungan anak.
Salah satu caranya dengan  mengajak anak berpartisipasi dalam memutuskan setiap kebijakan sekolah misalnya dalam hal pembuatan  tata tertib, dan penentuan jenis hukuman di sekolah. Sementara itu, Pendidik juga mempunyai peran yang sangat signifikan, mereka harus mampu menjadi pendidik yang ramah terhadap  anak dan mampu  menjadi fasilitator yang baik bagi anak didiknya.

baca selengkapnya »

Tuesday, 18 March 2014

Cerpen: Ijinkan Aku Meminangmu oleh Agus Yulianto di Solopos (Jumat, 07/03/2014)



Ijinkan Aku Meminangmu
Oleh : Agus Yulianto

            Setiap kali aku memandang bintang di langit malam yang begitu jauh . Aku merasakan jurang pemisah antara Aku dan Nisa yang makin menganga lebar. Kepergiannya setahun yang lalu untuk merantau ke negeri orang masih menyisakan perih di dasar hatiku. Ketika kutatap matanya yang bening tersimpan sebuah kesedihan yang menyesakkan dada. Saat ku dekap kedalam pelukanku aku merasakan gemuruh didasar hatinya dan air mata telah melelh di pipinya.
            Memang bukan keinginan Nisa untuk pergi dari kota ini. Keadaan keluarganya yang broken home memaksa dirinya untuk ikut bersama Ibunya ke Belanda. Di dalam hatiku aku tak tau siapa yang harus kusalahkan atas kepergian Nisa dari sisiku. Aku hanya bisa pasrah dengan takdir yang telah berkata.
            Pengeras suara yang melengking di bandara internasional Adi Sumarmo seakan menyadarkan lamunan yang baru saja menghampiriku. Doaku kembali sesak sesaat kulihat Nisa kembali meneteskan air mata.
            “ Aku pasti akan cepat kembali Za, entah itu kapan akan terjadi. Tapi aku akan selalu merindukanmu setiap waktu. “ Teriris hatiku mendengar kata-kata Nisa.
            Tak kupungkiri kesedihan pun masih menggelayutiku. Setahun kebersamaanku dengan Nisa yang kulalui dengannya kini bagai debu yang tertiup angin. Jemariku menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kuraih dia kedalam pelukanku seakan enggan untuk kulepaskan. Pelukan Nisa perlahan memudar saat Ibunya memanggilny untuk menuju pesawat yang telah siap berangkat.
            Ibu Ami pun terharu melihat perpisahan diantara kami yang tak pernah terduga sebelumnya.
            “ Aku pergi Za “ Kata Nisa sambil berbalik meninggalkanku. Aku hanya bisa memandangi raut wajahnya dengan hati yang pilu, semakin lama ku melihatnya semakin menjauh dari pandanganku. Akhirnya burung baja itupun menerbangkannya kenegri seberang.

-------**-----
            Setahun kemudian setelah perpisahan itu sampai sekarang masih dapat kurasakan debaran Nisa saat berada di pelukanku. Juga air matanya masih terniang di dalam ingatanku. Untuk menahan kerinduan ini aku selalu memandang foto ketika dulu kita bersama. Satu tahun kepergiannya belum dapatkan kabar tentang dirinya di negeri Kincir Angin. Namun aku tetap menjaga kesetiaan cinta ini agar suatu saat nanti cinta suci ini bisa kupersembahkan kepada dirinya saat dia kembali di sisiku.
            Waktu yang semakin cepat berlalu tak dapat satupun kabar tentang dirinya. Ketika ku telpon nomornya sudah ganti. Apakah ini pertanda dia sudah melupakanku. Ah...tidak mungkin. Dia berjanji padaku untuk menjaga rasa cinta ini. Tapi kenapa dia menghilang begitu saja. Ya Allah...cinta kita memang benar kau uji. Hatiku yang resah selalu berkata.
            Cintaku pada Nisa kini sudah mulai goyah pilarnya karena kehadiran Muslimah. Seorang gadis anggun yang selalu menjaga Ibadah dan Cintanya. Hatiku bergetar ketika aku jumpa dirinya. Ada rasa apa ini. Gumanku dalam hati. Dia begitu santun tutur katanya. Bahkan mata selalu menjaga pandangannya. Cinta yang dia miliki bukanlah cinta karna nafsu, tapi cinta karna Allah Swt. Aku memang egois, janji setia yang kuberikan pada Nisa kini kunodai sendiri  dengan hadirnya Muslimah di dalam kehidupanku. Untuk menjaga diri ini dari godaan syaiton atas saran Pak Syamsul , Ayah muslimah. Aku pun meminangnya. Ini tanpa sepengetahuan Nisa. Maafkan aku Nis...
            Muslimah, gadis yang berfisik lemah itulah yang menggoyahkan pilar-pilar kesetiaanku. Aku tahu Muslimah terkena kanker hati. Hidupnya pun tak akan bertahan lama.Mungkin karna alasan itulah perasaan cintaku padanya tumbuh perlahan-lahan.
            “ Kurasakan hari-hariku semakin suram Za, apalagi dokter bilang kalau umurku tidak akan lama lagi.” Kata Muslimah tertunduk lesu.
            “ Kamu kenapa bicara seperti itu, hidup mati manusia itu Allah yang mentakdirkan. Dokter hanya bisa mendiagnosa . Muslimah waktu yang singkat ini, kamu harus bisa menjalani hidupmu dengan ceria dan yakin kamu akan sembuh. “ Kataku memotivasi dirinya.
            Muslimah tersenyum tipis sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Kami berjalan beriringan di kawasan wisata Cemara Sewu, Tawangmangu Karanganyar. Sinar matahari yang masih bersinar terik menyorot tajam diantara pucuk-pucuk cemara.
            “ Aku takut hari-hari yang menyenangkan ini akan segera sirna dari hadapanku jika kekasih hatimu yang dulu kembali di sisimu Za.” Jelas Muslimah padaku.
            Aku terperanjat kaget baru tersadar kalau bayangan Nisa makin mengabur dari ingatanku. Haruskah aku merasa berdosa karena telah mengkhianati kesucian cinta Nisa demi seorang wanita yang begitu rapuh hidupnya.
            Tidak aku tidak mengkhianati Nisa, Aku akan merasa berdosa jika aku mebiarkan wanita sholeh ini menderita sendiri di dalam hidupnya. Aku hanya ingin memberinya kebahagiaan.
            “ Apa kamu yakin Nisa akan kembali kesini “ Tanyaku
            “ Aku dia bakal kembali ke sini. Bahkan ke dalam kehidupanmu. Hati wanita mana yang rela pujaan hatinya pergi begitu saja dari dalam kehidupannya. Apalagi cinta kalian telah terukir begitu lama. Hanya saja waktu telah menguji kalian. “ Air mata Muslimah mulai menetes perlahan dari matanya yang sayu.
            Kami pun berhenti melangkah. Ku tatap lekat mata Muslimah. Matanya yang bening sebening embun pagi mengingatkan aku pada Nisa. Dan kini aku kembali menyaksikan butiran kristal meluncur dari telaga Muslimah.
            “ Aku pasti tidak akan maafin kamu Za. Karena kamu telah masuk ke dalam hidupku. Aku sayang sama kamu. Dan aku tak tahu apa selama ini cintamu tulus padaku.” Bisik Muslimah sambil merebahkan kepalanya di dadaku.
Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Memang cintaku kepada Muslimah cinta karna peduliku pada dirinya. Bukan cinta karna kesetiaan. Aku selama ini hanya tak tega melihat gadis se sholeh dia hidup sendiri tanpa sebuah cinta hanya karna rasa sakit yang dialaminya. Manusia macam apa aku ini. Cintaku yang tumbuh karna nafsu kini mengikis sudah kedalam rongga hidupku. Aku hanya bisa pasrah dalam menjalani hidup ini. Bagaimanapun aku akan selalu menjaga istriku ini. Sampai kapanpun meski ajal telah memisahkan kita berdua. Aku harus mulai melupakan Nisa. Dia bukan milikku.Dia hanya sebatas kenangan dalam catatan hatiku.
            Ku peluk erat Muslimah dan ku katakan padanya “ Aku tak akan meninggalkanmu.Aku akan selalu setia menjaga rasa cinta ini. “ Air mataku pun tak terbendungkan.
            Dalam perjalanan pulang keheningan menyergap kami berdua. Kubiarkan saja Muslimah terhanyut dalam pikirannya sendiri. Matahari hampir terbenam yang terlihat hanya sebuah bulatan yang berwarna kuning jingga indah menghias langit.

----------------**---------------

            Hari demi hari berlalu  dengan cepatnya. Aku bagaikan berlari mengejar waktu. Hingga kini hampir 3 tahun perjalanan cintaku bersama Muslimah. Dan 3 tahun pula kepergian Nisa ke Negeri Tulip. Tapi perasaan ini masih saja ada untuk Nisa.
            Sore ini seperti biasa aku menanti Muslimah di hutan pinus untuk melihat matahari terbenam. Kulirik arloji di tanganku, sudah 10 menit aku berdiri di tempat ini. Tapi Muslimah belum ada tanda-tanda kedatanganya. Dari jauh aku mendengar deruh mobil menuju kearahku. Dan memang benar sebuah mobil Baleno berwarna biru laut berhenti tepat di depanku. Sesaat sosok wanita turun dari mobil itu . Mataku terbelalak lebar, saat aku tau siapa wanita itu yang kini berdiri dihadapanku.
            Nisa...benarkah wanita yang kulihat itu adalah Nisa. Rasa tak percaya di dalam diriku. Mungkin ini hanya halusinasiku belaka. Saat wanita itu menyebut namaku aku baru percaya kalau ini memang nyata. Bukan halusinasi. Dulu ketika kita masih bersama seringkali kita menghabiskan waktu sore hari di hutan pinus ini hanya untuk melihat terbenamnya matahari. Dan sinilah kita berjanji untuk saling setia. Teringat kenangan itu membuat diri ini bersalah.
            “ Apa kabar Za. Setiap detik setiap menit aku selalu merindukanmu. Aku tak sabar menanti hari ini untuk bertemu denganmu. Apa kau masih ingat janji setia kita. Dan maaf akn aku selama ini tak kubalas kerinduanmu padaku. Aku hanya ingin tau seberapa besar rasa cintamu padaku. Apakah kamu bisa menjaga kesetiaan ini. “ Semburat kata-kata Nisa membuat aku tertegun tak berdaya. Apa yang akan terjadi jika dia tahu bahwa hati ini sudah ada yang menggantikannya.
            “ Ada apa Za. Kenapa kamu diam. Apa ada yang salah dengan kehadiranku.Apa aku sudah jauh berbeda dengan Nisa yang dulu. Apa kau marah padaku.” Kata-kata tajam meluncur dari bibir manisnya Nisa. Seakan dia mengintograsi diriku. Ada apa ini. Kok g ada senyum khas di wajahmu.
            Aku sulit untu berbicara. Bibir ini terkunci rapat. Dan kuncinya itu hilang entah kemana. Aku bingung.......Kenapa ini harus terjadi kembali. Ya Allah...Apa salah hamba.
            “ Apa kau benar-benar Nisa, yang aku rindukan dan ku nantikan selama bertahun-tahun. ? “ rasa tak percaya seakan masih menyelimuti diri ini.
            Nisa mengangguk pelan di iringin air mata yang membanjiri pipinya seakan menyakinkan aku kalau dia benar-benar wanita pujaanku.
            Di depan sana aku tak menyadari tatapanku. Ada air mata menetes dari sudut matanya. Perih kurasakan bagai menikam jantungku dan kini aku tersudut tak tau apa yang harus aku lakukan. Seandainya dulu aku tak merobohkan kesetiaanku untuk Nisa dan tidak memasukkan Muslimah kedalam kehidupanku, mungkin sekarang ini aku tak menambah deret luka di hati Nisa.
            “ Siapa dia Za ?” tanya Nisa penuh rasa penasaran mengenai gadis itu.
            Dia menanyaan siapa wanita itu yang bergaun putih di seberang sana. Aneh, Muslimah yang sedang kami perhatikan tak bergeming dari tempatnya berdiri. Wajah manisnya bagai sinar yang terpantul oleh sang Surya. Ada yang lain dengan Muslimah. Walaupun sekarang dia sudah ada didepanku tapi, kurasakan kehidupannya jauh dariku. Seakan desah nafasnya sudah tidak dapat kurasakan lagi.
            “ Kamu belum jawab pertanyaanku siapa dia Za.? Sambung Nisa.
            “ Muslimah.. Dia istriku...” Seakan tersambar petir ketika ku mengatakan ini pada Nisa.
            Aku beku ditempatku berdiri, mulutku seakan kelu, kata-kata yang akan aku ucapkan bagai tertelan api. Aku menatap mata Nisa ada guratan kegelisahan dan kekecewaan yang tergambar dari wajahnya.
            “ Maafkan aku Nis... memang aku bukan pria yang setia. Saat kerinduan di hatiku makin memuncak Muslimah datang menggoyahkan kesetiaannku. “
            “ Ku kira kau adalah laki-laki yang tegar menghadapi semua cobaan yang merintangi jalan kita tapi nyatanya kau sangat rapuh Za. “ Rasa kesal di dalam hatinya Nisa di luapkan.
            “ Aku memang tak setegar batu karang itu Nis. Aku rapu saat tak ada kabar beritamu tak kunjung datang. Aku rapuh saat kukira kau telah melupakanku.”
            Aku mengalihkan wajahku kearah matahari mencoba menyembunyikan air mataku.
            “ Maafin aku Za” desis  Nisa.
            Angin gunung kembali berhembus menggugurkan dedaunan menimpa kami berdua, menerbangkan asaku ketempat yang jauh.
            Dering ponsel di sakuku seakan menyadarkan lamunanku. Fauzi...ada sebersit tanya dihatiku karena Fauzi adalah kakak Muslimah, dan sudah lama sekali dia tidak pernah menelponku ada apa ya? Terbesit tanya di dalam hatiku.
            “ Halo ada apa Kak ...? “ Tanyaku penuh keheranan
            Begitu mendengar apa yang dikatakan Fauzi wajahku seakan tidak percaya kalau Muslimah telah meninggal. Kankernya kambuh dan 1 jam yang dia telah menghembuskan nafas terakhirnya, Aku masih tidak percaya dengan semua ini apakah ini mimpi ? Padahal sedetik aku melihatnya berdiri disini melihat guratan kesedihan di matanya, apakah yang kulihat tadi hanyalah rohnya, pantas kurasakan jiwanya begitu kosobng ternyata dia telah pergi dari dunia ini. Rasa bersalah begitu besar didalam diriku. Sebagai suaminya aku tidak berada disisinya di saat dia membutuhkanku. Aku nyesal tiada tergantikan. Rasa bersalah begitu luar biasa menggelayuti hidupku.
            “ Ada apa Za. Kenapa wajahmu pucat “ Tanya Nisa.
            “ Istriku Muslimah.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ? teriakku histeris, dan disaat ini aku ingin berlari sekencang-kencangnya mengejar angin tapi, semua itu tak mampu kulakukan. Aku terduduk dan tak mampu bangkit lagi. Kurasakan Nisa menyentuh bahuku, matanya memandang penuh tanya padaku.
            “ Apa yang terjadi pada istrimu Za ? “
            “ Muslimah meninggal Nis. Kankernya sudah medium akhir dan yang kita lihat tadi mungkin hanyalah rohnya. Kata Fauzi dia telah meninggal satu jam yang lalu. “
            Mata Nisa berkaca-kaca mungkin karena dia kasihan dengan apa yang terjadi pada Muslimah hingga air mata jatuh menajari pipinya.
-----------------**-----------------

            Pemakaman telah sepi hanya ada beberapa orang yang masih disana. Kudengar seseorang memanggilku, saat kumenoleh ternyata Fauzi, dia berjalan kearahku. Dari matanya terlihat kesedihan yang masih membekas.
            “ Sebelum meninggal Muslimah berkata padaku kalau dia sangat berterima kasih padamu Za karena selama ini kamu telah memberinya semangat untuk hidup. Dia juga minta maaf padamu Nis karena mencoba merebut Zakia dari sisimu. Kuharap kalian mau memaafkannya agar Muslimah bisa tenang di alamnya.” Kata Fauzi kakaknya Muslimah.
            Setelah berkata begitu Fauzi bergegas meninggalkan pemakaman. Aku memandangi pusara Muslimah yang masih basah, aku yakin dia telah tenang di alam barunya. Tapi, bayang-bayang Muslimah seakan masih lekat dihatiku. Bayang wajahnya saat tersenyum seakan terlihat jelas dari makamnya. Muslimah telah memberiku satu kesempatan untuk mengulangi lagi kesalahanku di masa lalu, kesalahan dengan menduakan Nisa.
            “ Terimakasih Nis...? “ batinku dalam hati. Kulirik wanita yang berdiri di sampingku itu.
            “ Aku sangat berterimakasih pada Muslimah ...Karena dia telah mengembalikan orang yang sangat aku cintai walaupun dia harus menebus semua ini dengan kematiannya dan aku bisa berterima kasih setulus hatiku Za.” Kata Nisa pelan
            “ Aku juga sama sepertimu Nis, karena Muslimah aku sadar kalau rasa kesepian bisa membuatku melakukan apa saja termasuk untuk menduakanmu tapi, sekarang aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu. “
            Kini cinta yang dulu telah hilang tumbuh kembali di antara kita. Di depan makan Muslimah kita menjalin janji untuk saling setia. Dan aku katakan pada Nisa satu hal yang selama ini aku nanti-nantikan.
            “ Nis...Ijinkan aku meminangmu.” Tegasku padanya.    

baca selengkapnya »