Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Monday, 25 August 2014

Resensi Buku: Patologisme kepada Bunga

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
 
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.

Narasi sosok Vairam pun menjadi sesuatu yang segar dalam bab terakhir novel ini. Sosoknya sebagai perempuan mandiri seperti menjadi acuan dalam masa sekarang. Seseorang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam bisnisnya yang dilakukan dengan passion dan kegairahan hidup. Senyatanya begitulah seseorang harus bekerja. Ia memahami apa yang ia lakukan dengan baik atau tidak mengerjakan hal itu sama sekali.

Suatu saat ia bertemu dengan Marris, seorang pria flamboyan yang kemudian lebih menyukai Vairam daripada kekasihnya yang juga penyuka bunga matahari. Marris kelak menjadi pemicu bom waktu sifat patologis Vairam kepada bunga matahari. Pada akhirnya Vairam harus berakhir di sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapat pengobatan khusus.

Novel ini bertutur dengan apik tentang patologisme dan posesifisme. Dengan narasi yang cantik dan romantisme yang kental menjadi cerminan bahwasanya semua harus dicintai dengan adil dan bijaksana. Tak bisa diri menghaki sesuatu dengan nilai keakuan. Justru ia menjadi penyakit dan kelak akan menghukum diri kita.

Novel ini seakan ingin mengingatkan kembali tentang hal itu. Nilai moral menjadi keniscayaan dalam novel ini walaupun tak dihadirkan dalam bentuk yang terang benderang. Justru hal ini menjadi kelebihan novel Sonnenblume ini yang seakan tak berkesan menggurui. Memang tak banyak memang penulis novel yang berani membingkai cinta dalam kisah simbolik seperti sekarang ini. Semuanya terlampau terang benderang, dan novel ini menghindari itu semua.

Mungkin saya juga tak bisa menebak tepat dari apa yang penulis pikirkan. Mungkin bukan niatan membicarakan tentang patologisme kepada bunga dan cinta posesif yang ingin ia hadirkan. Mungkin lebih dari itu menimbang pada gejala dan fenomena yang ia hadirkan dalam buku setebal 194 halaman ini. Semua peristiwa dalam novel itu akan menjawabnya sendiri kepada pembaca. Sesungguhnya sebuah karya prosa mempunyai nilai tafsir dan intrepetasi yang berbeda dari satu pembaca dengan pembaca lain. Inilah salah satu keunggulan novel dibandingkan sebuah teks moral. Tabik.

* Prosais tinggal di Karanganyar. Aktif di Pakagula Sastra.

baca selengkapnya »

Tuesday, 4 February 2014

Resensi Buku: Laskar Anak Pintar oleh Agus Yulianto

Judul Buku          : Laskar Anak Pintar
Penulis                 : Andri Saptono
Halaman              : 128
Penerbit               : Indiva Media Kreasi, 2013

Novel anak yang berjudul Laskar Anak Pintar merupakan gambaran kisah petualangan seorang bocah yang bernama Maman, Lukman, Daud, Iqbal dan Sholeh.Mereka berlima hidup disuatu daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.

Mereka berlima merupakan anak dari keluarga sederhana.Maman anak seorang buruh serabutan yang meninggalkan bangku sekolahan dikarenakan ayahnya tidak sanggup untuk membiayai sekolah, Sholeh merupakan anak dari seorangl elaki yang berjualan pisang goreng keliling kampung, Sholeh merupakan anak yang cerdas, pandai dan selalu mendapatkan beasiswa.Tak ketinggalan Daud, Iqbal dan Lukman mereka semua sama berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka merupakan sahabat yang sejati, meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Dalam hal ini Maman dikisahkan sebagai seorang anak yang tidak menempuh pendidikan Sekolah dan Sholeh merupakan seorang anak yang menempuh pendidikan atau anak sekolahan.  Hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka berdua. Biarpun berbeda status sosial ekonomi mereka, rasa kepedulian tetap ada didalam diri mereka. Sikap saling tolong menolong, menghormati sesamanya, serta rasa ingin menegakkan agama dengan cara yang mereka lakukan sungguh sangat mengesankan dan bisa dapat di jadikan contoh untuk anak-anak di era sekarang yang sudah mulai terkikis dengan budaya cyber. 

Didalam buku ini kita dapat belajar dari seorang anak kecil yang memiliki kepedulian  yang baik untuk lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka anak yang berasal dari keluarga miskin dan sederhana, namun dibalik itu semua mereka mampu menjadi pahlawan kecil di daerah tempat tinggal mereka.Berbagai permasalahan di kampungnya mampu mereka hadapi dan selesaikan bahkan solusipun mereka berikan kepada orang dewasa. Hal ini mengingatkan bahwa anak kecil saja bisa berbuat kebaikan, apalagi kita sebagai orang dewasa selayaknyalah harus bisa lebih baik.

baca selengkapnya »

Sunday, 8 September 2013

Resensi Buku: Malam Sekopi Sunyi - Puisi Tentang Kopi dan Malam oleh Yuditeha di Solopos (08/09/2013)

Puisi Tentang Kopi dan Malam

Judul : Malam Sekopi Sunyi (Kumpulan Puisi)
Penulis : Ekohm Abiyasa
Penerbit : Mozaik Indie Publisher, Malang
Cetakan/tahun : I/2013
Halaman : 90 halaman

Yuditeha, 
Aktif di Sastra Alit Surakarta

Postingan serupa di Malam Sekopi Sunyi dan Serampaikata.

baca selengkapnya »