Wednesday, 25 February 2015

Cerpen "Tersohor" oleh Yuditeha di Koran Merapi (Minggu, 22/02/2015)

Koran Merapi Pembaruan (Minggu, 22/02/2015), Yogyakarta
Link: Facebook Sastra Alit Surakarta.

    Senja berlalu. Cahaya jingga yang tadi sempat menerobos lewat lobang angin-angin penjara kini telah menghilang, berganti sorot sinar merkuri yang baru saja dinyalakan. Malam ini adalah malam midodareni bagi sebagian tahanan mati. Kabarnya ada sepuluh tahanan yang akan dieksekusi dini hari nanti. Dan diantaranya adalah tahanan yang bernama Franz Estello Calvin.

    Saat ini, di ruang selnya yang bernomor 119, sembari menunggu eksekusi tiba, dia mengisi waktu dengan menulis surat. Meski petugas telah menanyakan apa yang jadi permintaan terakhirnya namun dia sengaja belum mau mengatakannya. Rencananya, surat itu-lah permintaan terakhirnya. Dia akan memberikan surat itu kepada petugas sebelum eksekusi dilakukan. Dia ingin masyarakat tahu siapa jati dirinya.

    Kepada semua orang yang berkenan membacanya,
begitu dia mulai menulis suratnya.

    Dari sekian tahanan mati kasus narkoba, mungkin hanya saya-lah yang menerima takdir ini dengan kebahagiaan dan suka cita.  Karena bagi saya, kematian ini akan begitu indah.


    Jangan mencurigai dan jangan tersinggung dengan kata-kata saya itu. Karena saya tidak bermaksud menyakiti perasaan siapa pun. Saya berpikir begitu semata untuk diri saya sendiri. Saya juga bukan sedang ingin melakukan pembelaan atas kasus diri saya dan hukuman mati yang saya terima ini.

    Pada intinya ini tentang cita-cita saya, mungkin bisa dikatakan seperti sebuah obsesi. Cita-cita ingin menjadi penulis kesohor. Dan aku bilang seperti obsesi karena usaha untuk menuju terkenal itu ternyata tidak mudah. Dan itulah yang terjadi pada diri saya dulu.

    Saya tidak tahu, apa yang kulakukan ini karena saya iri atau saya terinspirasi. Ada penyair Indonesia yang bernama Chairil Anwar, dia berteriak ingin hidup seribu tahun lagi. Rupanya hanya dengan puisi, cita-citanya itu kesampaian, bahkan namanya mungkin bisa hidup selamanya. Lalu saya juga berpikir tentang kisah-kisah karya dan kematian penulis yang lainnya. Dari kisah-kisah itu saya menyimpulkan, seringkali sebuah karya (apa pun bentuk dan mutunya) akan diberi penghargaan pada saat si pembuat karya itu mati.

    Dari situ, dulu saya pernah akan melakukan bunuh diri, tentu saja sebelumnya saya sudah siap dengan karya-karya tulisan saya. Pada kenyataannya saya sudah menulis ribuan judul puisi, ratusan naskah cerpen, dan tiga belas naskah novel. Sebenarnya beberapa puisi dan beberapa cerpen saya pernah dimuat di media koran tapi itu belum cukup mengantarkan nama saya pada keterkenalan. Apalagi belum satu pun novel saya yang diterima di penerbit.

    Kondisi itu sering membuat saya terpuruk. Saya seperti sedang melakukan pekerjaan yang sia-sia. Tetapi ketika saya akan melakukan bunuh diri itu saya berpikir ; banyak orang yang mati karena bunuh diri dan sia-sia. Itulah yang kemudian saya memaknai sebuah kematian itu harus bukan mati biasa. Dan saya memilih narkoba. Kenapa saya memilih narkoba dan bukan kejahatan yang lainnya? Karena menurut saya inilah kesalahan yang tetap membuat saya akan tetap waras. Dan kenapa di Indonesia? Karena di sini hukuman mati selalu menimbulkan pro-kontra. Jadi alangkah bahagianya saya ketika mendengar bahwa hukuman mati bagi saya akan diberlakukan.

    Begitu-lah alasan saya terjun di bisnis ini. Terlalu naif mungkin tapi itulah kenyataannya. Sepeninggal saya, silakan melihat karya-karya saya yang tersimpan rapi di file-file saya. Terima kasih semuanya. Sampai jumpa.

Tertanda :  Franz Estello Calvin

  
 Surat itu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam ke dalam saku baju yang dia pakai. Franz kemudian berbaring menunggu waktu yang tersisa. Di pembaringan itu dia teringat kata-kata dari Anton Kurnia, cerpenis idolanya yang berasal dari Indonesia. Kata-kata itu tertera dalam cerpennya yang berjudul Insomnia ; Bukankah dalam hidup ini ada kalanya kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan?

    Waktu dini hari tiba. Franz telah dijemput. Dia mengenakan seragam yang dipakai untuk eksekusi. Dengan cerdik dia telah menaruh surat yang ditulis semalam di balik bajunya. Kini dia dalam perjalanan ke tempat penembakan. Sejenak bulu halus di kulit Franz meremang. Bukan karena takut tapi karena udara di luar sangat dingin. Dingin itu dia rasakan seperti mampu menembus tulang.

    Ketika sampai di tempat penembakan, Franz segera disiapkan di areanya. Tangannya tetap terborgol. Wajahnya mulai ditutup. Tak lama kemudian terdengar suara aba-aba. Sebelas sniper telah siap membidikkan senapannya. Sedetik kemudian suara tembakan terdengar memecah kesunyian. Franz roboh. Dan sunyi berlanjut.

    Entah apa yang terjadi sehingga sebelum penembakan itu Franz tidak menyerahkan suratnya. Mungkinkah dia lupa atau tidak diberikannya kesempatan? Jika memang dikarenakan tidak diberikannya kesempatan untuk melakukannya, Franz pasti sangat kecewa dan sakit hati. Sakit yang dia rasakan untuk kesekian kalinya. Sakit yang mungkin melebihi rasa sakit sebelum-sebelumnya. Bisa saja lebih sakit dari rasa sakit ketika dulu ketika berulangkali karyanya ditolak media atau bahkan mungkin lebih sakit dari rasa sakit ketika tadi peluru itu menembus badannya.

    Saat jenazah Franz sedang dibersihkan, sebelum akhirnya akan dikembalikan kepada keluarganya, seorang petugas pembersih jenazah menemukan kertas yang terlipat rapi di balik bajunya. Mungkin kertas itu adalah surat yang ditulis Franz semalam. Keadaan kertas itu sedikit rusak karena terkena peluru dan kotor oleh leleran darah. Karena penasaran, petugas pembersih jenazah itu membuka lipatannya ingin mengetahui isinya. Pikirnya, jika hal itu sesuatu yang penting akan dia serahkan kepada yang berwajib. Ketika lipatan kertas terbuka, rupanya benar hal itu sebuah surat. Lalu dia mulai membacanya. Selesai membaca, petugas pembersih jenazah itu langsung merobek-robek kertas itu.

    "Hanya surat begini!" gumamnya masih dengan terus merobek kertas itu menjadi potongan kecil-kecil. Memangnya hanya dia yang ingin jadi penulis tersohor? batinnya.

baca selengkapnya »

OPINI: Memimpikan Sekolah Ramah Anak oleh Agus Yulianto di Joglosemar (Rabu, 25/02/2015)

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Agus Yulianto
Guru PAI SDIT Insan Cendekia Boyolali
Anggota IGI Soloraya

Joglosemar (Rabu, 25/02/2015)

Dalam beberapa hari terakhir ini media massa, baik media cetak maupun elektronik gencar memberitakan tentang kekerasan yang terjadi di sekolah, khususnya bullying (kekerasan) yang dilakukan oleh siswa maupun guru.  Kekerasan yang dilakukan tersebut telah keluar dari nilai-nilai kemanusian dan mencoreng tujuan mulia pendidikan.

Tragedi kekerasan yang berujung pada penahanan pelaku bullying  telah mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Betapa tidak, sekolah yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah (pendidikan budi pekerti) dan juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter, telah dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertangungjawab dan tidak memahami arti dari sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini, bukan hanya sekolah sebagai institusi  pendidikan yang namanya akan tercemar, kepala sekolah, guru, siswa bahkan orangtua pelaku juga akan menjadi jelek di mata masyarakat. Kekerasan di sekolah atas nama apapun seharusnya tidak terjadi.

Kekerasan pada dasarnya dapat digolongkan  dalam dua bentuk ; Pertama, kekerasan dalam bentuk sederhana atau bersifat spontanitas, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, seperti menempeleng atau meninju seseorang secara spontan akibat marah atau emosi yang tidak terkendali; Kedua, kekerasan yang terkoordinir atau terencana, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antarmasyarakat) dan terorisme (Bashori, 2010: 69-70).

Beberapa penelitian menyebutkan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta sebagai kota yang sering terjadi tindak kekerasan di lingkup sekolah. Akhir-akhir ini yang sering disoroti oleh media tindak kekerasan yang terjadi di beberapa sekolah/madrasah yang ada di Kota Solo. Kalau kita ketahui data dari hasil penelitian LSM perlindungan anak menyebutkan bahwasannya kekerasan terhadap anak paling tinggi dilakukan dalam lembaga pendidikan.

Menurut Ketua  Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak)  Arist Merdeka Sirait menyatakan kasus kekerasan seksual terhadap anak marak terjadi di sekolah. “Persentasenya nomor dua setelah rumah.” Kesimpulan tersebut ia dapat dari data kasus aduan kekerasan terhadap anak selama 2012. Dari 2.637 aduan yang masuk, sekitar 60 persennya merupakan kasus kekerasan seksual  (Tempo, 4/3/ 2013).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 kemarin terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di sekolah hingga lebih dari 10 persen. Wakil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  Apong Herlina mengatakan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi dalam berbagai jenis baik itu dilakukan oleh guru  maupun antarsiswa. Kasus kekerasan itu juga terjadi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Catatan ini didasarkan pada hasil survei KPAI di sembilan provinsi terhadap lebih dari 1.000 orang pelajar. Baik dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA. Survei ini menunjukkan 87,6 persen siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam. Dan sebaliknya 78,3 persen anak juga  mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat (komnaspa.or.id). Sungguh ironis sekali ternyata lembaga pendidikan kita masih belum meminimalisasi terjadinya kekerasan di sekolah?

Kebijakan
Merujuk pada hasil riset dari KPAI tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). Sekolah seharusnya menjadi tempat yang begitu menyenangkan bagi anak, karena di lembaga pendidikan inilah anak-anak akan dididik untuk saling mengenal, menyayangi satu dengan yang lain bukan untuk bermusuhan atau saling menindas. Dalam hal ini siswa senior harus dapat membimbing dan mengarahkan juniornya menjadi lebih baik. Sebaliknya siswa junior juga harus bisa menghargai dan menghormati seniornya.

Di sinilah peran guru sangat menentukan dalam menciptakan keharmonisan hubungan antarsiswa. Dengan melihat kondisi itu pemerintah diharapkan agar segera menerbitkan kebijakan sekolah ramah anak di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Sehingga, ke depan sekolah tidak hanya menjadi lembaga yang berorientasi pada pencapaian target kurikulum tapi penyelenggaraannya juga menghormati HAM dan prinsip perlindungan anak.

Menurut  penulis, tindakan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya karena kondisi sekolah yang kurang nyaman dan juga kurikulum sekolah.  Untuk mewujudkan hal tersebut, banyak hal yang harus dipenuhi di antaranya selalu mengajak anak berpartisipasi dalam memutuskan setiap kebijakan sekolah misalnya dalam hal penyusunan tata tertib sekolah atau jenis hukuman bila mereka melanggar.

Selain itu, sarana dan prasarana yang ada di sekolahpun harus dipenuhi. Pendidik juga mempunyai peran yang sangat signifikan, mereka harus mampu menjadi pendidik yang ramah terhadap  anak dan mampu  menjadi fasilitator yang baik bagi anak didiknya. Sementara anakpun harus dinilai sikap dan perilakunya ketika mereka berinteraksi dengan temannya pada saat istirahat.

PAI Sebagai Alternatif
Berbagai fakta di atas, mengindikasikan bahwa pendidikan belum mempunyai peran signifikan dalam proses membangun kepribadian generasi bangsa yang berjiwa demokratis dan berwatak humanis. Pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan justru melunturkan maknanya itu sendiri.

Pendidikan yang semestinya menanamkan sikap toleransi, kepedulian terhadap sesama, kesadaran tentang perbedaan, adanya kesamaan hak serta kewajiban, kebebasan berpendapat dan sebagainya, justru mengebiri makna kebebasan dan mengasung kemerdekaan peserta didik. Akibatnya, Mereka menjadi robot zaman yang telah kehilangan hati nurani dan perasaan ( Haryanto Alfandi,2011:203). Dalam hal ini dibutuhkan sekali peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) karena  PAI merupakan alternatif solusi untuk membentuk karakter peserta didik yang beriman dan bertakwa. Persoalannya adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran yang benar-benar dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia di kalangan peserta didik?

Pembinaan akhlak tidak cukup hanya dilakukan oleh guru PAI melalui mata pelajaran yang diampunya di sekolah yang hanya dilaksanakan dua jam per minggunya. Akan tetapi, diperlukan integrasi antara nilai-nilai keimanan dan ketakwaan pada mata pelajaran PAI dengan mata pelajaran lainnya, atau yang kemudian disebut dengan mata pelajaran umum.

Proses ini secara psikologis akan memperkaya dan memperdalam bahan ajar. Persoalannya terletak pada strategi mana yang hendak dipergunakan guru dalam mengintergrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam mata pelajaran yang diampunya. Dengan adanya integrasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam mata pelajaran umum, maka pembinaan tanggung jawab akhlak peserta didik adalah tanggung jawab semua guru mata pelajaran, bukan hanya tanggung jawab guru PAI.

Proses integrasi ini pun harus berjalan secara alamiah, tidak melalui proses yang mengada-ada. Proses integrasi bukan berarti setiap pokok bahasan harus dilegalkan dengan ayat-ayat Alquran, melainkan dari setiap pokok bahasan tersebut diambil hikmah yang dapat diambil peserta didik bagi kehidupannya. Melalui integrasi materi pembelajaran akan tercipta karakter yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unsur agama Islam yang pada gilirannya akan melahirkan budi pekerti.

baca selengkapnya »

Saturday, 21 February 2015

Tiga Puisi Ekohm Abiyasa di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)

Musim Giling Tebu

pukul sepuluh malam
telinga kecil merekam
bunyi mesin sebuah pabrik tebu
berjarak lapisan kenangan

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

pukul sepuluh malam
nasib menyeru kami para pekerja
lembur mengguyur dapur kristal-kristal keringat

suara itu mendentam telinga
sampai usia kelewat amis
raga-raga pucat
meniup asap-asap hitam dalam lubang
corong penebar bau tak sedap

hidup bertanjak dingin
demi hari esok

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

Surakarta, 2014


Dadu

kedua kakiku membeku
dikepung dingin

sebeku inikah hatimu?

aku tak pandai merayu
memilikimu seperti melempar sebuah dadu
angka-angka mujur sulit dipilih
angka-angka memilih tanpa tebang pilih

langkah-langkah tersesat!

Surakarta, 2014


Derita Tiada Habis

1
sepasang kaki mengitari halaman basah di musim meranggas
sepasang mata meliuk angkuh pada pukul sepuluh malam

2
kaki sudah tak tahan lagi pada panas pasir
lagu-lagu hanya sesaat mengayun pelan
di telinga tanpa masuk lebih dalam dan singgah lebih lama di jiwa
bukan,
semisal musim kering telah tuntas namun masih saja
terasa sama musim-musim berikutnya

Surakarta, 2014

Sumber: Facebook Zaeni Boli.

baca selengkapnya »

Monday, 16 February 2015

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner oleh Andri Saptono di Solopos (14/02/2015)

bancakan-bisnis-jabarcom
Dimuat di Solo Pos (14/02/2015)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.

Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup.

Namun jika kita sempat membaca novel The Remains of The Day, karangan Kazuo Ishiguro, kita akan menemukan bahwa masakan rumah dan pelayanannya adalah sebuah hal yang ekslusif dan mempunyai peran penting dalam revolusi sebuah negara. Kisah dalam novel ini memang menceritakan tentang kisah seorang kepala pelayan rumah tangga di sebuah rumah bangsawan Darlington Hall milik Lord Darlington. Kepala pelayan mereka yang arif bijaksana itu bernama Stevens. Rumah tersebut mempertemukan beberapa tokoh seperti Mr. Churcill, Her Ribbentrop tangan kanan Hitler, dan orang-orang penting di jaman itu. Meja makan dan hidangan sehat serta lezat menjadi tempat bertemu dan berdiskusi orang-orang besar itu dalam merumuskan revolusi negara-negara mereka.

Dari novel inilah, suasana rumah yang classy dan berkelas serta tempat makan yang berkualitas menjadi sebuah wahana bagi orang-orang besar untuk merumuskan suatu negara.

Tapi, novel belakangan pun, seperti novel yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak yaitu Aruna dan Wabahnya, konon menceritakan tentang pesona wisata kuliner di Indonesia. Bahkan dikatakan novel ini adalah novel kuliner yang beraroma sastra. Para penggemar sastra dimanjakan lidahnya di novel ini dan para penikmat kuliner dapat menikmati pesona kuliner dalam perspektif baru: sastra.

Makanan Sehat Ala Rumahan adalah Sebuah Berkah
Sekali lagi saya percaya bahwa makanan sehat yang dibuat seorang ibu atau istri tercinta adalah kemewahan. Keahlian memasak dan menghidangkan makanan di rumah adalah sebuah berkah bagi keluarga harmonis. Pun, saya cenderung lebih mengamini tentang gaya hidup sehat adalah makanan yang terjaga kualitasnya serta terjaga faktor ekonomisnya. Bahkan kalau bisa terjaga barokahnya. Insya Allah.

Namun diakui juga perempuan di jaman sekarang banyak yang tidak bisa memasak. Mereka lebih banyak belajar tentang bisnis, membangun jaringan, making money, tetapi mereka lupa belajar untuk memasak. Waktu bersama keluarga yang biasanya berada di meja makan mulai bergeser di luar rumah, di tempat wisata atau di warung kuliner.

Sejatinya, menghidangkan makanan untuk keluarga dan kepandaian para istri dan ibu rumah tangga mengolah masakan adalah sebuah jiwa bagi rumah tangga yang kokoh dan harmonis. Bahkan, karena suasana rumah yang homey inilah banyak lahir seorang laki-laki yang kuat dan hebat, serta tumbuh anak-anak yang sehat yang dibesarkan oleh makanan sehat ibunya, yang kelak akan menjadi seorang pemimpin-pemimpin besar.

Para pemimpin Indonesia adalah contoh seperti itu. Mereka ingat akan karakter ibu mereka yang biasa mengasuh mereka dan memberi mereka asupan gizi yang sehat dari makanan-makanan rumahan mereka. Tidak ada kisah bahwa pemimpin-pemimpin besar itu selalu berkumpul di warung kuliner atau suka jajan di warung.

Makanan Sehat yang Sederhana tapi Berkualitas
Makanan sehat yang disajikan di rumah tidak harus selalu mahal untuk disebut berkualitas. Makanan sehat bisa hadir di rumah yang sederhana dan bersahaja. Pun bisa ditumbuhkan dari lahan sekitar kita yang bisa ditanami sayur dan buah-buahan. Bahan makanan juga tidak harus selalu impor dan komplet ala 4 sehat 5 sempurna. Kualitas bisa dicapai dengan kesederhanaan. Sayuran dan buah-buahan yang ditanam di lingkungan sekitar kita, seperti bayam, pepaya, singkong, kacang panjang, juga bisa menjadi pilihan yang ekonomis juga berkualitas. Telur ayam kampung yang dipelihara sendiri juga bisa menjadi asupan gizi. Bahkan susu kambing yang kita pelihara pun bisa memberikan gizi yang terbaik bagi keluarga.

Sudah saatnya rumah-rumah kita didesain untuk tempat menanam sayuran serta produsen makanan sehat seperti ini. Manfaatkan lahan kosong untuk bertanam sayur dan buah-buahan. Bahkan, di jaman sekaang dikenal dengan istilah tanaman organik yang ditanam tanpa lahan tanah. Cukup dengan instalasi yang sederhana dan murah bisa membuat lahan di tempat yang sempit, baik itu di kota maupun di perumahan. Malah, jika lahan ini bisa produktif dapat juga membantu perekonomian rumah tangga.

Perlu juga dibentuk sikap sederhana dan bersahaja, tidak suka jajan di warung kecuali memang terpaksa harus membeli di warung. Hal ini ditanamkan dari anak-anak hingga kepada pasangan. Selain gaya hidup sederhana ini bisa membuat pengeluaran tidak membengkak, dan akan lebih menanamkan sikap bersahaja dalam rumah tangga. Uang bisa diarahkan pada hal-hal yang lebih prioritas lagi.

Seorang perempuan juga harus melengkapi keahlian memasak untuk keluarga. Table manner yang indah juga bisa menjadi faktor kelanggengan rumah tangga terutama dengan pasangan. Seorang perempuan cantik tidak bisa memasak terkadang menjadi ‘cermin buruk’ di mata suami yang tentu ingin merasakan masakan rumah atau tatkala ia kangen dengan masakan rumah yang dulu pernah dibuatkan ibunya.

Sekali lagi, Makanan Sehat Bukan Gaya Hidup Keplek ilat
Sekali lagi makanan sehat bukan hegemoni restoran atau tempat makan kuliner yang direkomendasikan oleh televisi, pak Bondan, dan para keplek ilat yang memenuhi warung-warung kuliner.

Gaya hidup kuliner di satu sisi adalah konsumtif yang dikemas dalam gaya hidup modern. Tidak harus selalu dituruti walaupun kadang ia dimanipulasi menjadi wahana kegembiraan bagi keluarga modern. Kebahagiaan sejati lebih tumbuh pada kebersamaan keluarga, teman, saudara yang cukup mengenal tentang diri kita, keluarga kita dan anak-anak kita. Salah satu cara itu bisa kita undang mereka hadir di tengah keluarga kita, bersantap makanan bersama kita. Bagi mereka yang kaya dan bangsawan mungkin bisa menghadirkan suasana Darlington Hall bagi relasi-relasi bisnis yang penting. Kesejatian memang menjadi attitude yang perlu kita capai terutama dalam bersantap makanan sehat. Dan sebagai pungkasan, makanan sehat ala rumahan dalam keluarga yang nyaman adalah sebuah berkah dari untuk keluarga Indonesia.

baca selengkapnya »

Monday, 9 February 2015

Dua Puisi Lusi Kristiana di Solopos (Minggu, 08/02/2015)

SEPI

Menjadi sepi
Seperti membangun tembok besar
di kepala sendiri
Aku hampir lupa
Bagaimana cara tersenyum kepada sore
Aku juga lupa
Bagaimana cara kerja otak
Memberi stimulus kepada mulut
Untuk mengumpat dan menyanjung
Sampai akhirnya reduplah hati

Sementara aku menakar pikiran
Serentak pikiran dan hati bergaduh
Tiba-tiba aku ingin jadi pohon-ditebang, tumbang
atau rumput-dicabut, mati
atau kedua-duanya lebih baik.


MENGEMAS KENANGAN

Apa yang ingin kau pisahkan
dari foto-foto manis
kenangan ini
mungkin tak seperti ketabahan sunyi
yang aku pinjam
untuk mengasuh air mataku.

Di dalam diam aku mencoba merangkum
segenap beku yang meluruh tak bersuara.

Pekerjakanlah aku yang sekarang
miskin kepercayaan ini
dan didiklah aku.
Agar tak terus menganggur dalam duka
lalu ajarkanlah aku berdoa
seperti nasi yang hangus mendidikku
untuk tidak cepat merasa lapar.

baca selengkapnya »

Thursday, 29 January 2015

Buku Layak Anak oleh Agus Yulianto di Solopos (Sabtu Pon, 24/01/2015)

Dimuat Solopos (Sabtu Pon, 24 Januari 2015)
Kolom Didaktika


Oleh Agus Yulianto, S.Pd.I
Guru SDIT Insan Cendekia, Boyolali

Seperti yang kita ketahui seorang anak belum dapat memilih bacaan anak yang baik untuk dirinya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tidak pedulikan cocok atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memilih bacaan yang sesuai dengan perkembangan ke-dirian-nya, sebagai orang tua atau guru harus peduli dengan memberikan konsumsi buku bacaan yang tepat. Namun demikian, pemilihan bacaan anak haruslah tidak dilakukan secara serampangan atau berdasarkan selera subjektif dan kacamata orang dewasa. Bagaimanapun yang berkepentingan dalam hal ini adalah anak, maka kebutuhan anak harus menjadi kriteria pertama yang dijadikan pegangan. Pemilihan bacaan harus mempertimbangkan hal-hal tertentu yang telah diakui ketepatannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
            Untuk itu, kita harus berfikir kritis memilihkan bacaan cerita anak yang sesuai dan efektif buat anak, bacaan yang baik dan sengaja ditulis untuk konsumsi anak-anak. Hal itu berarti bahwa kita, guru dan atau orang tua, haruslah memahami struktur dan bentuk buku bacaan, sebagaimana halnya kita memahami perkembangan cara berfikir anak, perkembangan emosional, sosial, dan bahasa, serta perubahan kriteria. Singkatnya, kita haruslah mempunyai kemampuan untuk memilih secara tepat bacaan-bacaan yang dimaksud dengan mempergunakan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Persoalannya kini adalah tema dan moral apa yang baik untuk buku-buku anak? Dewasa ini memperoleh bacaan anak amat mudah. Di toko-toko buku tersedia beragam dan banyak buku bacaan anak yang disediakan pada rak-rak khusus. Buku-buku bacaan anak yang dimaksud terdiri dari berbagai genre, baik yang merupakan karya asli berbahasa Indonesia maupun karya-karya terjemahan, atau karya yang terdiri dari dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Buku-buku tersebut banyak yang sudah menunjuk dirinya untuk dipakai pada anak usia tertentu atau kelas tertentu sehingga kita tinggal memilih sesuai dengan keadaan anak yang akan diberi bacaan itu. Untuk bacaan anak usia awal sekolah pun banyak buku-buku bergambar yang ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Misalnya, buku Knowing ABC, Mengenal Huruf sambil mewarnai (usia 5-6 tahun) karya Mondy Risutra yang berisi gambar-gambar binatang dan aktivitas tertentu. Dengan demikian, lewat buku dan bantuan kita, anak sekaligus dapat belajar bahasa Inggris secara langsung dalam konteks bacaan cerita yang menarik.  Buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia, selain yang merupakan karya kreatif, dalam arti karya asli para pengarang yang bersangkutan, juga banyak beredar buku-buku kumpulan dongeng dari berbagai pelosok tanah air di Indonesia. Misalnya buku-buku kumpulan dongeng berjudul Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan Cerita Rakyat dari Surakarta, keduanya merupakan karya Bakdi Sumanto.
            Artinya, dewasa ini anak-anak kita benar-benar dimanjakan dengan ketersediaan bacaan anak-anak demikian banyak pilihan bacaan yang beragam. Buku-buku tersebut, terutama yang berbentuk majalah, atau yang berupa kolom di surat kabar, pada umumnya tidak hanya memuat cerita-cerita, melainkan juga berisi berbagai hal penting yang perlu diketahui anak untuk memperkaya wawasan yang sengaja ditulis dengan kacamata anak yang berwujud tulisan-tulisan nonfiksi. Dengan buku-buku inilah anak-anak layaknya seperti manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar.Pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca ini akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang. Tugas kita adalah mengarahkan dan mengajak serta memberikan contoh kepada mereka untuk membaca dan membaca.

baca selengkapnya »