Showing posts with label Andri Saptono. Show all posts
Showing posts with label Andri Saptono. Show all posts

Sunday, 8 May 2016

Novel Lost in Lawu - Andri Saptono

Promo Novel Lost in Lawu

TEMP
Alhamdulillah, pagi ini menjadi hari yang cerah dan indah meskipun langit masih mendung.
Ya, benar saja akhirnya novel saya yang ke sekian ini terbit juga. Inilah Lost in Lawu, yang diterbitkan oleh penerbit Prenadamedia.com di divisi Kaki Langit
ini penampakannya kawan..
Untitled
Sinopsis Lost in Lawu
Seperti peribahasa kuno, asam di gunung garam di laut bertemu di belanga. Takdir yang telah mempertemukan para peziarah Lawu dalam satu kemelut dahsyat. Bayu, Sanyoto dan Marzuki, dua orang pendaki amatir bertemu dengan Galih, seorang introvert dari kota yang individualistis. Namun justru kedahsyatan alam liar gunung Lawu telah merekatkan hubungan mereka bertiga hingga menjadi simpul integritas yang mengubah sosok introvert Galih Adiyasa berhasil menemukan jati dirinya.
Ketika Bayu dan kawan-kawan ingin sejenak menikmati pesona matahari terbit di puncak lawu, siapa sangka mereka telah menyeret diri mereka dalam kancah pertempuran dua orang para pendekar masa silam yang sedang berlaga di puncak Argo Dumilah. Lurah Sungkono, seorang abdi masyarakat di desa Tegal Winangun hanya ingin mempertahankan desanya dari terkaman para pengusaha kota yang rakus, yang akhirnya harus berhadapan dengan Sukriya, saudara perguruannya sendiri, yang tamak dengan harta dan kekuasaan.
Tak dinyana Bayu dan kawan-kawan harus berhadapan dengan para penjahat kejam yang ingin membunuh lurah Sungkono. Terjadilah kemelut di puncak Lawu.
Bukan itu saja, kisah perjalanan Galih menemukan jati dirinya di puncak Lawu adalah sebuah ziarah diri yang terdalam. Ia pergi ke puncak gunung Lawu untuk menguji dirinya sejauh mana ia bisa bertahan dalam sengitnya tekanan. Alam liar adalah lawan tangguh untuk pengujian ini. Namun, musuh utamanya justru dirinya sendiri dan masa lalu. Melepaskan diri dari masa lalu adalah sebuah perjalanan menuju tapal batas kehidupan. Merenungi makna kehidupan dan mengejawantahkan arti diri dalam kebajikan.
Galih telah sampai kepada pengertian tentang pribadinya sendiri di tengah alam semesta ini. Dan perjalanan untuk sampai ke titik itu tidaklah mudah. Ia harus menguji dirinya dengan dashyatnya tantangan puncak Lawu yang penuh aroma mistis. Bahkan, konon puncak Lawu adalah tempat terbaik untuk menguji seseorang untuk memahami hakikat dirinya. Salah satu tanda itu dia akan mendapatkan bunga edelweis ungu yang langka.
Mampukah Galih mendapatkan edelweis ungu yang mistis itu?
Novel Lost In Lawu sukses membuat saya bergadang. Membaca novel ini seperti menonton film suspense thriller adventure yang menggiurkan, saya begitu terseret ke dalam petualangan seru di Gunung Lawu. Seperti ikut mendaki gunung bersama tokohnya, dan menghadapi banyak rintangan, hujan badai, binatang liar, bahkan seseorang yang mengancam nyawa kita. Pikiran saya terus memburu jawaban, bergonta-ganti Poin of View Tokoh, membuat saya makin penasaran. Hingga jawabannya terkuak. Siapkah kau menerima jawabannya?
—NIKOTOPIA, Penulis Astrolo(ve)gi & Scriptwriter Masalembo Net TV.
..Melintasi lereng Lawu adalah perjalanan rutin saya setiap kali pulang ke Magetan. Kabut yang menurun dan dingin yang menusuk di Cemoro Sewu mengiringi tapak jejak perjalanan. Menghirup udara Lawu adalah menghirup kenangan yang membuat saya rindu untuk selalu kembali dan kembali lagi. Saya belum pernah mencapai Argo Dumilah, apalagi Argo Dumuling, tapi membaca kisah ini membuat saya merasa berhasil mencapai puncak Lawu. Menapaki alur yang indah, sekaligus mencekam dan penuh tantangan. Lost in Lawu bukan kisah pendakian biasa, namun juga kisah pengkhianatan, ketamakan, persahabatan, sekaligus ziarah kehidupan. Kisah-kisah yang hanya akan didapat oleh mereka, yang benar-benar melakukan perjalanan dalam kesejatian.
(Ary Yulistiana- penulis novel Sonnenblume &100th dragonfly)
Oya, untuk yang mau order daripada penasaran, sila mampir ke website ini:
http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Lost_In_Lawu

baca selengkapnya »

Monday, 27 April 2015

Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

oleh: Andri Saptono

-Solopos, Senin, 27 April 2015
 
Desa dan Bank Plecit
Istilah bank plecit, atau lintah darat dulu lebih masyhur dikenal daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawari pinjaman dengan cepat, dan tanpa administrasi yang ribet –cukup dengan jamiman fotocopy KTP saja. Penampilan mereka pun nyaris stereotif sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil tagihan kepada para nasabahnya. Biasanya mereka lebih suka menyamperi ibu-ibu yang bergerombol entah sedang petan kutu atau sekedar nangga. Begitulah realita yang terjadi di desa saya, dan beberapa desa lainnya di Karanganyar.

Desa menjadi tujuan para bank plecit beroperasi. Seperti desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara tetapi dengan bunga yang mencekik leher. Ibu-ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan selebihnya masuk menjadi nasabah para setan kredit itu.
 
Pertumbuhan koperasi simpan pinjam baik yang berbadan hukum resmi atau abal-abal semakin banyak di Jawa khususnya. Terutama bank plecit hanya ingin mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa. Kenyataan di lapangan, penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang seringkali kesingsal dengan perubahan jaman. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para Bank Plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya.  

Bukan Simbiose Mutualisme
Jelas relasi antara bank plecit dan nasabah bukanlah sama menguntungkan (simbiose mutualisme), apalagi dengan keyakinan hendak menolong. Sebaliknya, mereka itu menjerat nasabah dengan gaya hidup suka mengutang. Mereka tak peduli dengan persoalan tolong menolong orang yang kesusahan. Bahkan, tak jarang bank plecit mengancam hingga menganiaya nasabahnya jika ada kredit macet. Ibu-ibu yang terjerat hutang ini dan seringkali hutang mereka tanpa konfirmasi kepada suami, alih-alih menyalakan keributan di rumah. Bahkan, sebab hutang kepada rentenir inilah hampir terjadi perceraian karena suami kaget ternyata istrinya berhutang di belakang, dan jumlahnya tak sedikit. Solo Pos pernah mencatat fenomena ini di sebuah desa Jambon, Gamping, Sleman yang memasang pengumuman “BANK PLECIT DILARANG MASUK DI KAMPUNG INI” karena dampak negatif masuknya Bank Plecit ke desa tersebut (12/4/2012).
 
Kronik lintah darat
Dalam buku sekolah dan prosa pun sering disinggung tentang lintah darat. Siti Nurbaya karangan Marah Rusli, yang mengetengahkan karakter Datuk Maringgih sebagai seorang rentenir licik. Pun profesi mereka umumnya dibenci dan dianggap sebagai sebuah pengganggu ketentraman dalam masyarakat. Kehadiran mereka seakan hendak memangsa orang yang lengah di antara kita. Barangkali seperti srigala yang hendak menjerat mangsanya.

Tapi, paradigma sekarang bank plecit dan lintah darat mengalami pleonasme menjadi debt colector. Hal ini barangkali seperti pelacur menjadi PSK. Akibatnya, bahkan pengumuman lowongan debt colector (bank plecit) sering kali muncul di iklan koran dan ikut bersaing di bursa lowongan kerja. Apalagi jika ditengok dengan kacamata agama, jelas bank plecit ini haram hukumnya. Selain mereka berpraktek riba juga mencekik leher para nasabah.
 
Masyarakat yang awalnya antipati dengan bank plecit seolah dibisiki bahwa sekarang bank plecit adalah koperasi simpan pinjam yang memudahkan kita berhutang. Bahwa sekarang tidak ada riba, tetapi bunga atau uang administrasi. Jadi, persoalan dosa dan agama adalah ucapan para ustadz atau kyai saja yang berkarakter jumud dan kolot.
 
Menumbuhkan Ekonomi Kreatif Di Desa
Kita yakin bahwa bank plecit apapun namanya adalah persoalan di masyarakat kita. Masyarakat lebih membutuhkan pertolongan secara terstruktur dan sistematis bukan pertolongan instan yang malah mencelakakan, seperti misalnya berhutang pada rentenir. Dari persoalan inilah kita hendaknya bergerak untuk berkarya menumbuhkan ekonomi kreatif di desa. Paradigma desa adalah tempat terbelakang dan ndesa, harus diubah menjadi desa yang peka jaman dan berkarya kreatif. Contoh yang termudah adalah misalnya penempatan bantuan tidak hanya pada sarana dan prasarana infrastruktur desa. Kenyataannya pembangunan itu tidak semuanya teralokasikan dengan tepat atau bisa membuat perekonomian langsung bertumbuh dengan cepat. Andaikan misalnya bantuan digunakan untuk usaha bersama, atau membuat home industri atau misalnya lokakarya di masyarakat desa, akan lebih optimal penempatan bantuan tersebut.
 
Sering terjadi bantuan dari PNPM hanya untuk memperbagus jalan, atau membuat gapura, atau membuat megah Pos Kamling yang malah tidak berfungsi apapun. Atau pengajuan proposal kepada misalnya partai atau badan usaha tetapi hanya untuk membeli perabot bala pecah di kampung. Akan lebih optimal bila dibelikan kambing kemudian dikelola menjadi peternakan kambing fermentasi atau misalnya untuk usaha ibu-ibu di tempat tersebut.

Namun, nampaknya kesadaran semacam ini belum bertumbuh di sebagian desa, terutama di karanganyar. Karena itulah sering terlihat pembangunan infrastruktur yang maju tetapi pemikiran mereka masih pemikiran ndesa yang masih kesingsal dengan perubahan jaman.
 
Akhirnya, bukan hanya sekedar larangan Bank Plecit dilarang masuk kampung saja, tetapi menumbuhkan semangat kreatif dan mengurangi gaya hidup berhutang kepada para rentenir itu adalah sikap yang lebih utama. Apalagi jika sudah sampai pada kesadaran sesungguhnya riba itu berbeda dengan jual beli yang berprinsip mendapat keuntungan dari pihak lain. Hutang menghutang adalah perkara sosial-ekonomi yang tak bisa dihindari. Namun akan lebih bijak jika bisa menghindari dari bank plecit.
 
Industri kreatif tidak hanya berpusat di kota tetapi juga bisa digerakkan di desa. Tentu juga dengan menempatkan SDM masyarakat desa yang positif. Unsur komunal dan sikap gotong royong mereka bisa menjadi energi untuk membangun ekonomi kreatif tersebut. Dan walhasil, masyarakat akan lebih maju perekonomiannya dan tidak kesingsal dengan jaman yang cepat bergerak ini.

Pemerintah pun tidak boleh lupa untuk memberikan program padat karya kepada penduduk desa. Jika selama ini hanya terfokus pada BLSM, maka jangka panjangnya hanya akan membentuk manusia Indonesia yang bermental pengemis. Melulu ingin disubsidi. Padahal juga uang yang diberikan, kadang tidak digunakan untuk kebutuhan yang tepat. Misalnya untuk ganti hape baru, atau malah melunasi hutang ke bank plecit yang sudah menunggu dengan setia.
 
Memang menumbuhkan ekonomi kerakyatan yang juga diwacanakan oleh pemerintahan Jokowi tidak bisa serta merta. Tidak bisa hanya sekedar mendorong dan menggembar-gemborkan wacana ekonomi kerayaktan di media-media mainstream atau medsos. Akan lebih baik pemerintah memberikan ‘kapak dan cangkul’ kepada penduduk desa untuk bekerja daripada memberikan BLSM yang tidak membuat penduduk desa lebih produktif dalam bekerja.
 
Wallahu A’lam bishshowab

baca selengkapnya »

Saturday, 25 April 2015

Cerpen: Dia yang Menanti Suami di Stasiun Ini

Karya Andri Saptono*
-Solopos, April 2015

Perempuan itu selalu datang ke peron stasiun ini setiap senja. Sudah sebulan ini aku menandai perempuan itu selalu datang sendirian ke tempat ini. Dari penampilannya tentulah ia dari kalangan menengah ke atas. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Mobilnya pun sedan BMW keluaran Eropa. Tetapi, kedatangannya setiap hari ke stasiun ini membuatnya terlihat aneh dan mencurigakan.
Ah, memang melihat orang cantik yang berperilaku aneh memang menarik. Barangkali ia adalah seorang seniwati. Kau tahu seniman atau seniwati seringkali melakukan sesuatu yang nyleneh bagi sebagian orang, tetapi dari perspektif lain ia ternyata sedang membuat mahakarya besar. Atau barangkali ia seorang peneliti yang sedang mengadakan penelitian di stasisun ini. Tapi, penelitian apa yang dilakukan di stasiun ini? Apakah ada yang istimewa dengan stasiun ini?
Mungkin saja. Stasiun ini banyak diabadikan dalam karya sastra. Aku sering membacanya dalam koran minggu terbitan nasional itu. Atau kudengar juga pernah nama stasiun ini dijadikan sebuah buku novel.
Oh, kau belum tahu nama stasiun kereta ini. Namanya stasiun Biru. Jangan kau tanya mengapa stasiun ini diberi nama Biru. Kulihat juga cat tembok di sini tak semua berwarna biru. Beberapa tanda prosedur komplek yang penting juga berwarna merah. Dan semua tampak wajar seperti stasiun lainnya di Indonesia ini. Tapi mungkin dahulu orang yang menamakannya suka dengan kata Biru. Jadi ia menyebut itu dan begitulah semua terjadi. Dan seperti kata Shakspeare, apalah arti sebuah nama. Aku lebih cocok dengan ungkapan yang terakhir ini.
Kembali ke perempuan itu. Senja ini ia datang seperti biasa. Kupikir aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mungkin ada yang bisa kubantu. Maksudku, aku merasa ia seperti mencari sesuatu. Dan bukankah sesama manusia sebagai makluk sosial harus selalu membantu yang lain. Jujur, aku pun tak bertendesi apapun.
Kali ini kudekati ia. Ia sedang menekuri hapenya. Melihat inbok di layar android yang tak lekas dijawabnya.
“Permisi mbak… saya lihat mbak sebulan ini setiap hari ke sini…ehm, apakah mbak ini sedang mencari sesuatu? Mungkin ada yang bisa saya bantu.”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya memang cantik. Tapi aku mengalihkan perhatianku dari wajahnya yang rupawan itu. Dan aku sempat bersirobok dengan matanya yang menatapku. Astaga, mata itu tidak seperti melihatku. Mata itu kosong.
“Barangkali ada yang bisa saya bantu. Saya petugas kebersihan di sini.”
Perempuan itu masih diam. Aku masih menunggu jawaban darinya. Dan memang terasa segan jika berbicara dengan seseorang tapi tak ditanggapi. Sepertinya aku yang jadi pengganggu di sini.
“Apakah saya menganggu anda? Maafkan saya kalau begitu. Saya akan pergi.”
Aku berdiri. Tapi aku masih menunggu. Dan memang perempuan itu tak berkata apapun. Aku pun pergi dari tempat itu. Kulirik dari sudut mataku, perempuan itu masih bergeming di tempatnya. Orang-orang di sekitarku tampak berkasak kusuk tentangku.
“Wah, berani juga kau, Man?” si Sudrun tertawa cengegesan. “Kuacungi jempol kalau kamu berhasil dapat nomernya.”
“Jempolmu abuh itu. Tadi aku itu cuma nanya dia. Aku kasihan soalnya. Dia tampak seperti orang bingung. Sudah sebulan ini selalu datang ke peron ini.”
“Ah, masak sih orang seperi dia bingung. Lihat saja orang cantik begitu, tampaknya kelas menengah ke atas. Bukan potongan orang ndeso seperti kita. Alasan kamu saja kan?”
“Tenan! Aku tidak bohong. Mungkin saja dia butuh bantuan.”
Aku teringat tentang mata kosong itu. Hendak kukatakan pada Sudrun. Tapi kurasa tak ada gunanya. Dia lebih suka berpikir ngeres kalau melihat perempuan cantik sendirian.
Selepas magrib perempuan itu pulang seperti biasa. Dalam hati, entah mengapa aku berharap dia akan kembali besok pagi. Aku akan bertanya lagi padanya. Semoga dia mau menjawab sepatah dua patah kata padaku. Ya, barangkali aku bisa membantu jika dia memang butuh bantuan.
Senja itu datang lagi bersama perempuan itu. Atau memang senja tak akan lengkap tanpa perempuan itu di stasiun ini. Ah, aku merasa jadi sentimentil. Kuamati dirinya ia duduk di peron. Membuka hape yang sama. Kali ini ia memakai kerudung hitam, kacamata hitam dan baju terusan yang besar. Ia nampak seperti perempuan religius dengan pakaian begitu. Kubayangkan bagaimana jika ia memakai cadar.
Imaginasiku pergi ke mana-mana. Tapi buru-buru kupenggal. Kembali kuberanikan datang kepadanya lagi. Tak kupedulikan omongan rekan-rekan kerjaku. Biar saja mereka berkata seenaknya.
“Sore mbak…” sapaku.
Perempuan itu masih menekuri hape. Ah, rasanya tak nyaman berbasa-basi dan sok akrab seperti ini. Tapi sudah kutekadkan untuk membuat perempuan itu bicara.
“Boleh saya duduk di sebelah anda?” tanyaku.
Dia masih diam. Aku mencoba memasang senyum. Barangkali ada yang bisa cair dengan senyuman. Tapi sialnya, perempuan itu masih dingin.
Kutekadkan untuk duduk meskipun tak dipersilakan.
“Saya tahu saya mungkin tak sopan ingin tahu urusan orang lain. Tapi kalau anda butuh bantuan atau sedang mencari sesuatu, barangkali saya bisa membantu masalah anda.”
Perempuan itu masih diam. Dia hanya menghela napas. Dan pandangan itu masih kosong.
“Aduh, saya seperti ngomong sama reco ya? Kalau anda tidak suka, lebih baik katakan saja, mbak. Daripada saya dicuekin begini, sakitnya tuh di sini,” kataku melucu menirukan Cita Citata.
Tapi perempuan itu bergeming.
“Baiklah, saya perkenalkan nama saya kalau anda tidak keberatan. Nama saya Paiman. Saya tukang bersih-bersih di sini. Saya sudah berkeluarga, mbak. Jadi anda tak usah khawatir dengan saya. Saya tidak berniat buruk sama orang asing sekalipun. Takut kuwalat mbak. Eh, mbak paham kuwalat kan?”
Si perempuan itu tetap diam.
“Kuwalat itu bahasa Jawa mbak. Semacam karma gitulah. Kalau kita berbuat jahat, pasti kita akan dapat balasan yang jahat juga dari orang lain.”
Aku pun terus bercerita. Apa saja yang bisa kuomongkan.
“Istri saya di rumah jualan pecel, mbak. Dulu jualan juga di stasiun ini. Tapi itu dulu. Sekarang sudah dilarang jualan di stasiun. Yang boleh jualan hanya swalayan di pojok itu saja, mbak. Ya, orang kecil gimana lagi. Sudah jatahnya digusur.”
Dia menatap pada tempat yang jauh menembusi bangunan di depannya. Tak dihiraukannya suara orang lalu lalang di sekitarku. Dan sialnya juga diriku.
“Istri saya itu memang jago bikin pecel lho, mbak. Saya senang setiap hari dikasih lauk pecel. Tapi, anak saya yang bungsu cepat bosan. Dia suka ayam goreng. terpengaruh sama film Upin Ipin itu lho mbak. Mbak tahu kan Ipin Upin…”
Perempuan itu tak menggubris. Kesabaranku hampir habis rasanya.
“Anak saya ada tiga mbak. Dua masih di SD. Sedang yang kecil masih berumur satu tahun. Masih trantanan jalan sama mboknya. Wah, senang sekali kalau saya pulang. Si kecil itu memang menghibur sekali, mbak. Kalau mbak sendiri sudah berkeluarga?”
Perempuan itu sungguh beku. Aku pun tetap dableg. Ini seperti bicara dengan patung saja.
“Baiklah, kalau anda itu tidak mau diganggu saya. Tapi begini mbak, saya mau cerita. Ini cerita terakhir saya dan tolong anda dengarkan. Begini, sudah sebulan ini anda datang ke sini setiap hari. Karena itulah saya penasaran. Daripada mati penasaran, saya pun berniat bertanya pada sampeyan biar saya tak penasaran lagi. Lantas tiga hari saya menyapa mbak itu. Tapi mbak malah tidak menggubris saya.”
Perempuan itu sekilas menatapku. Tapi masih saja perempuan membisu. Aku pun jadi kesal.
“Oalah mbak. Saya percaya anda itu tidak bisu kok. Mbok, ya ngomong to!”
Astaga, perempuan itu tetap bisu. Aku hampir mengumpat padanya. Tapi aku boleh menyerah.
“Baiklah, ini terakhir kali. Kalau anda tak sudi menjawab ya sudah. Pesan saya, tolong hargailah orang yang bicara kepada anda. Beri penghormatan satu atau dua patah kata. Itu cukup kok. Wassalam…”
Aku bangkit berdiri hendak berlalu.
“Tunggu Pak.”
Aku lega. “Oalah, ngomong gitu aja kok lama mbak…”
“Maaf…”
“Baiklah, silakan ngomong ke saya apa saja. Saya akan jadi pendengar yang baik kok.”
“Terima kasih…”
Aku duduk. Menunggunya bicara.
“Silakan…”
“Bentar pak…”
Perempuan itu membuka inbok. “Barangkali ada pesan dari suami saya.”
“Memangnya kemana suami anda?”
“Dia pergi ke Jakarta. Naik kereta Argo Bisnis. Saya ke sini mau menjemputnya.”
“Oh, makanya anda menunggu di sini. Tapi kok setiap hari anda ke sini. Kapan berangkatnya mbak?”
“Tanggal 28 Februari.”
“Tanggal 28.” Aku berpikir. “Itu kan sudah lama. Sekarang ini tanggal 30 maret.”
“Entahlah, saya tidak tahu mengapa ia tidak mengabari saya kalau pulang. Ini juga tidak ada sms.”
Aku mengernyitkan dahi. Bukankah Argo Bisnis yang berangkat tanggal 28 Februari itu adalah yang kereta mengalami kecelakaan naas itu. Jangan-jangan, perempuan ini menunggu suaminya yang sudah mati. Ya, semua penumpang kereta itu meninggal karena kereta terjatuh ke jurang. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
“Saya menunggunya di sini ingin menjemputnya. Tapi, mengapa dia tak mengabari saya kalau sudah pulang.”
Air mataku menggenang. Aku tak tahu apa yang akan kukatakan. Sepertinya sebuah palu besar menghantam dadaku hingga sesak.
“Anda harusnya tak menunggunya lagi, mbak. Suami anda tidak akan kembali.”
Perempuan itu menatapku tajam. Tatapannya penuh kebencian.
“Mengapa dia tidak kembali? Bukankah kereta dari Jakarta akan datang sebentar lagi.”
Belum satu patah kata kujawab. Sebuah tangan menarikku kuat. Kulihat dua orang laki-laki di belakangku.
“Sebaiknya anda pergi.”
Aku bangkit. Kupikir mereka saudara perempuan itu dan tidak suka melihatku dekat padanya.
Dua lelaki itu mengajak perempaun itu pergi. Dan si perempuan itu tak menolak. Sekilas ia melihatku dengan tatapan tak senang.
Aku tak tahu apakah dia kembali atau tidak ke stasiun ini. Kuharap ini terakhir kali aku bertemu dengannya. Tatap matanya yang penuh kesedihan itu mengguncang hatiku. Aku pasti tak akan sanggup untuk bertatapan kedua kalinya sejak saat ini.

*Novelis dan cerpenis.
Bergiat di Pakagula Sastra Karanganyar.

Link: https://atmokanjeng.wordpress.com/2015/04/25/dia-yang-menanti-suami-di-stasiun-ini/

baca selengkapnya »

Monday, 16 February 2015

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner oleh Andri Saptono di Solopos (14/02/2015)

bancakan-bisnis-jabarcom
Dimuat di Solo Pos (14/02/2015)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.

Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup.

Namun jika kita sempat membaca novel The Remains of The Day, karangan Kazuo Ishiguro, kita akan menemukan bahwa masakan rumah dan pelayanannya adalah sebuah hal yang ekslusif dan mempunyai peran penting dalam revolusi sebuah negara. Kisah dalam novel ini memang menceritakan tentang kisah seorang kepala pelayan rumah tangga di sebuah rumah bangsawan Darlington Hall milik Lord Darlington. Kepala pelayan mereka yang arif bijaksana itu bernama Stevens. Rumah tersebut mempertemukan beberapa tokoh seperti Mr. Churcill, Her Ribbentrop tangan kanan Hitler, dan orang-orang penting di jaman itu. Meja makan dan hidangan sehat serta lezat menjadi tempat bertemu dan berdiskusi orang-orang besar itu dalam merumuskan revolusi negara-negara mereka.

Dari novel inilah, suasana rumah yang classy dan berkelas serta tempat makan yang berkualitas menjadi sebuah wahana bagi orang-orang besar untuk merumuskan suatu negara.

Tapi, novel belakangan pun, seperti novel yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak yaitu Aruna dan Wabahnya, konon menceritakan tentang pesona wisata kuliner di Indonesia. Bahkan dikatakan novel ini adalah novel kuliner yang beraroma sastra. Para penggemar sastra dimanjakan lidahnya di novel ini dan para penikmat kuliner dapat menikmati pesona kuliner dalam perspektif baru: sastra.

Makanan Sehat Ala Rumahan adalah Sebuah Berkah
Sekali lagi saya percaya bahwa makanan sehat yang dibuat seorang ibu atau istri tercinta adalah kemewahan. Keahlian memasak dan menghidangkan makanan di rumah adalah sebuah berkah bagi keluarga harmonis. Pun, saya cenderung lebih mengamini tentang gaya hidup sehat adalah makanan yang terjaga kualitasnya serta terjaga faktor ekonomisnya. Bahkan kalau bisa terjaga barokahnya. Insya Allah.

Namun diakui juga perempuan di jaman sekarang banyak yang tidak bisa memasak. Mereka lebih banyak belajar tentang bisnis, membangun jaringan, making money, tetapi mereka lupa belajar untuk memasak. Waktu bersama keluarga yang biasanya berada di meja makan mulai bergeser di luar rumah, di tempat wisata atau di warung kuliner.

Sejatinya, menghidangkan makanan untuk keluarga dan kepandaian para istri dan ibu rumah tangga mengolah masakan adalah sebuah jiwa bagi rumah tangga yang kokoh dan harmonis. Bahkan, karena suasana rumah yang homey inilah banyak lahir seorang laki-laki yang kuat dan hebat, serta tumbuh anak-anak yang sehat yang dibesarkan oleh makanan sehat ibunya, yang kelak akan menjadi seorang pemimpin-pemimpin besar.

Para pemimpin Indonesia adalah contoh seperti itu. Mereka ingat akan karakter ibu mereka yang biasa mengasuh mereka dan memberi mereka asupan gizi yang sehat dari makanan-makanan rumahan mereka. Tidak ada kisah bahwa pemimpin-pemimpin besar itu selalu berkumpul di warung kuliner atau suka jajan di warung.

Makanan Sehat yang Sederhana tapi Berkualitas
Makanan sehat yang disajikan di rumah tidak harus selalu mahal untuk disebut berkualitas. Makanan sehat bisa hadir di rumah yang sederhana dan bersahaja. Pun bisa ditumbuhkan dari lahan sekitar kita yang bisa ditanami sayur dan buah-buahan. Bahan makanan juga tidak harus selalu impor dan komplet ala 4 sehat 5 sempurna. Kualitas bisa dicapai dengan kesederhanaan. Sayuran dan buah-buahan yang ditanam di lingkungan sekitar kita, seperti bayam, pepaya, singkong, kacang panjang, juga bisa menjadi pilihan yang ekonomis juga berkualitas. Telur ayam kampung yang dipelihara sendiri juga bisa menjadi asupan gizi. Bahkan susu kambing yang kita pelihara pun bisa memberikan gizi yang terbaik bagi keluarga.

Sudah saatnya rumah-rumah kita didesain untuk tempat menanam sayuran serta produsen makanan sehat seperti ini. Manfaatkan lahan kosong untuk bertanam sayur dan buah-buahan. Bahkan, di jaman sekaang dikenal dengan istilah tanaman organik yang ditanam tanpa lahan tanah. Cukup dengan instalasi yang sederhana dan murah bisa membuat lahan di tempat yang sempit, baik itu di kota maupun di perumahan. Malah, jika lahan ini bisa produktif dapat juga membantu perekonomian rumah tangga.

Perlu juga dibentuk sikap sederhana dan bersahaja, tidak suka jajan di warung kecuali memang terpaksa harus membeli di warung. Hal ini ditanamkan dari anak-anak hingga kepada pasangan. Selain gaya hidup sederhana ini bisa membuat pengeluaran tidak membengkak, dan akan lebih menanamkan sikap bersahaja dalam rumah tangga. Uang bisa diarahkan pada hal-hal yang lebih prioritas lagi.

Seorang perempuan juga harus melengkapi keahlian memasak untuk keluarga. Table manner yang indah juga bisa menjadi faktor kelanggengan rumah tangga terutama dengan pasangan. Seorang perempuan cantik tidak bisa memasak terkadang menjadi ‘cermin buruk’ di mata suami yang tentu ingin merasakan masakan rumah atau tatkala ia kangen dengan masakan rumah yang dulu pernah dibuatkan ibunya.

Sekali lagi, Makanan Sehat Bukan Gaya Hidup Keplek ilat
Sekali lagi makanan sehat bukan hegemoni restoran atau tempat makan kuliner yang direkomendasikan oleh televisi, pak Bondan, dan para keplek ilat yang memenuhi warung-warung kuliner.

Gaya hidup kuliner di satu sisi adalah konsumtif yang dikemas dalam gaya hidup modern. Tidak harus selalu dituruti walaupun kadang ia dimanipulasi menjadi wahana kegembiraan bagi keluarga modern. Kebahagiaan sejati lebih tumbuh pada kebersamaan keluarga, teman, saudara yang cukup mengenal tentang diri kita, keluarga kita dan anak-anak kita. Salah satu cara itu bisa kita undang mereka hadir di tengah keluarga kita, bersantap makanan bersama kita. Bagi mereka yang kaya dan bangsawan mungkin bisa menghadirkan suasana Darlington Hall bagi relasi-relasi bisnis yang penting. Kesejatian memang menjadi attitude yang perlu kita capai terutama dalam bersantap makanan sehat. Dan sebagai pungkasan, makanan sehat ala rumahan dalam keluarga yang nyaman adalah sebuah berkah dari untuk keluarga Indonesia.

baca selengkapnya »

Friday, 23 January 2015

Opini: Karanganyar Maju dan Berbudaya? oleh Andri Saptono di Joglosemar (Kamis, 15/01/2015)

Joglosemar 9:13 Kamis, 15/01/2015
Link http://epaper.joglosemar.co/folder/2015/01/150115/#p=9
atau http://joglosemar.co/2015/01/opini-karanganyar-belum-maju-dan-berbudaya.html
 
oleh: Andri Saptono
Pegiat Komunitas Pakagula Sastra Karanganyar 

SLOGAN Karanganyar Maju dan Berbudaya memberikan dorongan dan konsistensi yang kuat untuk membentuk perilaku positif. Mungkin,  “Maju dan Berbudaya” menegasikan slogan sebelum Karanganyar Tentram, yang lebih identik dengan stagnan, dan kurang progresif.

Karanganyar berbenah di era kepemimpinan Yuliatmono dan Rohadi Wibowo (YU-RO). Kemajuan infrastruktur menjadi ukuran yang ingin ditampilkan dari di bidang pembangunan, terutama jalan dan berbagai tempat publik. Peremajaan gedung-gedung diagendakan sebagai bagian dari modernisasi wajah Karanganyar. Relokasi Pasar Jumat yang kemarin menimbulkan penolakan tetap dijalankan demi pembangunan ke arah kemajuan dan maslahat Kota Karanganyar, yang kini diwujudkan dengan open space di sekitar alun-alun. Masyarakat Karanganyar pasti mengamini kalau pemimpin kali ini adalah tipe yang gigih ingin memajukan pembangunan Karanganyar.

Pun, slogan berbudaya getol dicanangkan Karanganyar. Perlindungan terhadap cagar budaya dengan menggelar pameran cagar budaya yang digelar pada acara Milad Karanganyar kemarin. Rencana pembangunan sekolah pariwisata yang bernilai Rp 4 miliar yang kelak akan menjadi jualan Kota Karanganyar yang berada di lereng Gunung Lawu –banyak memiliki aset pariwisata– yang tentu kelak akan menambah pemasukan pendapatan daerah. Dan, Karanganyar masih memiliki banyak tempat wisata indah lainnya yang tentu saja menuntut perhatian pemerintah Kabupaten untuk merawat dan tidak rusak berbagai kepentingan oknum yang oportunis.

Pujian akan tetap ada untuk YU-RO dan kritikan masih akan terus berlangsung selama keduanya memimpin Karanganyar –minus pro kontra kepemilikian tempat wisata Grojogan Sewu yang masih belum kelar dan plagiatisme logo Karanganyar Maju dan Berbudaya yang menjiplak SEA Games ke-26 yang dilaksanakan di Palembang.

Tidak Melulu Pariwisata
Karanganyar tidak harus melulu menjual pariwisata. Slogan maju dan berbudaya adalah langkah atau ikhtiar pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Karanganyar itu sendiri. Bagaimana cara agar masyarakat mempunyai andil yang besar dalam pembangunan Karanganyar.  Tidak melulu mengeskploitasi alam dan terkadang berdampak merubah mengubah, mendistorsi kekayaan alam hanya karena nggege mangsa untuk menjadikan Karanganyar sebagai kota pariwisata.

Pun, pada kesempatan Milad Karanganyar yang ke-97 lalu, pelbagai acara telah digelar. Festival budaya dicanangkan, pameran budaya ditampilkan untuk pertama kalinya di Karanganyar setelah beberapa pemimpin sebelumnya tak ada yang melakukannya. Semuanya hanya berkiblat pada Kota Karanganyar sebagai kota pariwisata.

Ini justru menjadi sebuah  ketidakberuntungan di satu sisi. Padahal, Karanganyar sendiri mempunyai nilai lebih di bidang lain yang semestinya bisa digarap. Semisal adanya lahan pertanian yang tentu juga membutuhkan perhatian dan pengembangan besar. Agrobisnis yang sempat moncer pada bupati sebelumnya namun tenggelam di masa sekarang. Dan, selama ini petani seperti menjadi kelas kedua di masyarakat. Padahal, Karanganyar itu sendiri mempunyai lahan yang luas yang bisa dioptimalkan untuk menjadikan Karanganyar sebagai kota pertanian.

Adanya Waduk Delingan, Waduk Lalung, dan lainnya yang belum tergarap maksimal. Selama ini terlihat Waduk Delingan, mudah sekali habis airnya yang semula penuh. Penyebabnya, debit air cepat menurun karena air dijual untuk kebutuhan pabrik gula Tasikmadu ketika masa giling dan pertanian menjadi prioritas kedua. Padahal, seharusnya ekosistem waduk bisa dikembangkan menjadi konsep pariwisata agroculture ditambah kawasan hutan lindung Bromo yang berada di dekatnya. Hal ini lebih bisa bermaslahat bagi rakyat daripada hanya mengedepankan untuk mendapatkan pembayaran dari pabrik gula Tasikmadu saja.

Masih banyak sektor lain yang semestinya digarap. Entah itu pertanian atau sektor lain, menurut saya kesadaran masyarakat untuk maju juga harus digarap. Masyarakat Karanganyar sepertinya juga lebih tertarik menjadi konsumen dan penggemar hiburan dengan adanya open space di Karanganyar. Mengapa tidak menjadikan open space itu sebagai sebuah taman pintar, dan dilengkapi dengan perpustakaan kota yang representatif atau museum di kota. Mengapa wajah kota hanya dipenuhi pemandangan para penjual dan tempat hiburan yang centang perenang.

Menuju Kota Edukasi
Open space yang dikerumuni oleh pasar malam menihilkan budaya literer. Dulu di tempat itu, berdiri perpustakaan dalam waktu yang lama, menyokong pembangunan dengan cara yang asketis dan sepi. Pun, beberapa komunitas literasi sempat bernaung di sana. Perpustakaan menjaga akal budi masyarakat perkotaan, membuka wawasan dengan ilmu agar tidak kesingsal dengan budaya modern yang banal.
Kini di sekitar alun-alun, hanya berdiri perpustakaan masjid Agung yang makin elok namun masih sepi pengunjung. Konon, masyarakat baca di Karanganyar belum terbentuk. Ketika zaman bupati Rina Iriani, beberapa kali terselenggara event membaca terbanyak dan membaca terlama yang masuk MURI, dan menjadi seremonial belaka. Kini, minus perpustakaan yang tersembunyi di bekas Kartini lawas, tampaknya dinas terkait, terutama Disdikpora, harus rajin untuk berkeliling kembali menggelorakan semangat membaca di Karanganyar. Entah itu dengan perpustakaan keliling atau festival baca yang besar di Karanganyar.
Ini adalah ajakan untuk membentuk masyarakat yang gemar membaca di Karanganyar. Ajakan hanya akan menjadi wacana jika tidak diimbangi dengan kebijakan dari dinas terkait untuk memfasilitasi. Misalnya, akan lebih proporsional di open space alun-alun kelak itu, juga dibangun taman pintar. Buku dan ilmu disediakan di sana dan perpustakaan yang memadai. Jadi, orang pergi ke Karanganyar tidak hanya wisata kuliner, dan menghabiskan waktu memandangi taman, tapi mereka juga belajar pada buku.

Kantong Hitam
Karanganyar juga belum sepenuhnya dikatakan maju dan berbudaya. Karanganyar masih menyimpan kantong hitam di bawah pelupuk matanya. Adanya lokalisasi Ndangkrong Indah (DKI) di Tasikmadu, memperlihatkan betapa peliknya masalah pelacuran menjadi masalah di setiap kota. Ketakberdayaan pemerintah untuk mengatasi hal ini membuat mereka makin berakar kuat dan merusak sendi masyarakat di sekitarnya.

Seorang kawan pernah bercerita dirinya akan menikah dengan gadis daerah lain. Melihat kawan saya dekat dari Ndangkrong ini, si keluarga calon menolak anak perempuannya diboyong ke rumah si lelaki ini. Stigma lokalisasi Ndangkrong akan terus menempel bagi Karanganyar. Akan lebih bijaksana hal ini segera dituntaskan, dientaskan dan dibuat solusi yang bijaksana. Seperti pendahulu yang sebelumnya, Rina Iriani yang kini menjalani sidang di Tipikor Semarang, telah berhasil menutup lokalisasi di Warung Ayu, Kebakkramat. Keberhasilannya tentu bisa menjadi contoh dan referensi bagi YURO untuk menyelesaikan masalah lokalisasi Ndangkrong.

Akhirnya, harapan menjadikan Kota Karanganyar sebagai kota yang maju dan berbudaya akan terwujud. Tidak melulu kota pariwisata yang menjual keelokan alam tetapi membentuk sikap dan kualitas manusia di Karanganyar sebagai masyarakat yang maju dan mempunyai serta menjunjung tinggi budaya adiluhung, yaitu budaya manusia yang mengedepankan nilai agama, cinta kasih dan persaudaraan universal. Sungguh, saya berharap banyak pada pasangan YU-RO kali ini dalam memimpin Karanganyar, terutama mau belajar pada keberhasilan pemimpin sebelumnya.

baca selengkapnya »

Monday, 25 August 2014

Resensi Buku: Patologisme kepada Bunga

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
 
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.

Narasi sosok Vairam pun menjadi sesuatu yang segar dalam bab terakhir novel ini. Sosoknya sebagai perempuan mandiri seperti menjadi acuan dalam masa sekarang. Seseorang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam bisnisnya yang dilakukan dengan passion dan kegairahan hidup. Senyatanya begitulah seseorang harus bekerja. Ia memahami apa yang ia lakukan dengan baik atau tidak mengerjakan hal itu sama sekali.

Suatu saat ia bertemu dengan Marris, seorang pria flamboyan yang kemudian lebih menyukai Vairam daripada kekasihnya yang juga penyuka bunga matahari. Marris kelak menjadi pemicu bom waktu sifat patologis Vairam kepada bunga matahari. Pada akhirnya Vairam harus berakhir di sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapat pengobatan khusus.

Novel ini bertutur dengan apik tentang patologisme dan posesifisme. Dengan narasi yang cantik dan romantisme yang kental menjadi cerminan bahwasanya semua harus dicintai dengan adil dan bijaksana. Tak bisa diri menghaki sesuatu dengan nilai keakuan. Justru ia menjadi penyakit dan kelak akan menghukum diri kita.

Novel ini seakan ingin mengingatkan kembali tentang hal itu. Nilai moral menjadi keniscayaan dalam novel ini walaupun tak dihadirkan dalam bentuk yang terang benderang. Justru hal ini menjadi kelebihan novel Sonnenblume ini yang seakan tak berkesan menggurui. Memang tak banyak memang penulis novel yang berani membingkai cinta dalam kisah simbolik seperti sekarang ini. Semuanya terlampau terang benderang, dan novel ini menghindari itu semua.

Mungkin saya juga tak bisa menebak tepat dari apa yang penulis pikirkan. Mungkin bukan niatan membicarakan tentang patologisme kepada bunga dan cinta posesif yang ingin ia hadirkan. Mungkin lebih dari itu menimbang pada gejala dan fenomena yang ia hadirkan dalam buku setebal 194 halaman ini. Semua peristiwa dalam novel itu akan menjawabnya sendiri kepada pembaca. Sesungguhnya sebuah karya prosa mempunyai nilai tafsir dan intrepetasi yang berbeda dari satu pembaca dengan pembaca lain. Inilah salah satu keunggulan novel dibandingkan sebuah teks moral. Tabik.

* Prosais tinggal di Karanganyar. Aktif di Pakagula Sastra.

baca selengkapnya »