BENING
Cerpen Danang Febriansyah
(Dibahas
dalam Forum Diskusi “Bakar Sate” FLP Solo oleh Komunitas Sastra “Sketsa Kata”
Minggu, 3 September 2006 & Dimuat
dalam Majalah Serambi Al-Muayyad, September 2013)
“Aku tak mencintaimu.”
Terdiam dalam seribu kalimat yang mengendap di hati terurai bersama
amarah yang menyusup. Tiga kata yang begitu menikam dengan sangat telaknya.
Ketika apa yang telah menjadi sebuah kepastian itu direnggut tanpa
terselamatkan, apalah daya untuk merebut kembali jika itu masalah hati.
“Betapa menyakitkan dipermainkan.”
“Hanya maafku terucap.”
“Sangat menyakitkan!”
Lalu kenapa engkau rela menjadi kekasihku, ketika ku ucapkan kata cinta
untukmu? Baru kemarin kau menjadi kekasihku. Bukankah aku telah menerima
tantanganmu untuk benar-benar menjadikanmu sebagai calon pendamping hidupku
hingga makam menerima kita untuk masuk ke dalamnya? Tapi kenapa baru sehari
kemarin, kini kau pergi begitu saja dengan memporak-porandakan hatiku?
“Maaf.”
Lagi-lagi hanya permintaan maafmu
yang kau ucapkan, tanpa bisa menjelaskan alasan kenapa engkau hanya dua puluh
empat jam menjadi kekasihku dan pagi ini kau menghempaskanku kembali dalam
jurang yang teramat gelap. Aku terpuruk.
“Baru sekali ini aku dipermainkan.
Dan cukup kali ini saja!”
“Aku memang tak bisa mencintaimu,
meski ku telah berusaha. Tapi aku sayang kamu, makanya aku enggan untuk
membohongimu lebih lama lagi.”
Betapa bodohnya engkau, dengan mudah
menerimaku, lalu dengan mudah pula kau melepasku. Kau anggap apa aku ini?
“Hanya satu pertanyaanku, apa
alasanmu menerimaku menjadi kekasihmu?”
Kamu hanya menunduk dalam mendengar
pertanyaanku ini. Kulihat airmatamu mengalir deras mengguncang bahumu. Tanganmu
mencoba membendungnya tapi tetap tak bisa, air mata itu tetap saja mengalir,
bahkan makin deras.
“Kenapa?”
Aku mencoba tak terusik dengan
tangismu. Pepohonan bergoyang landai, anginnya membelai rambutmu yang tergerai.
Batu tempat kita duduk ini terdiam, sementara air sungai yang menyapu kaki kita
mengalir mengiringi tangismu, mengiringi luka hatiku.
Kamu mencoba menata hati. Kau hela
nafas panjang, disela-sela kicau burung meramaikan pagi.
“Aku ….”
Masih saja kau belum bisa
mengemukakan alasanmu. Kamu tetap saja seperti tak kuasa menyakiti hatiku,
meski benar-benar telah mengoyak hatiku.
Sementara aku makin diiris rasa
penasaran yang menggelegak, kau kembali menitikkan air mata. Tangis yang
seharusnya keluar dari mataku, bukan darimu. Betapa ini sungguh menyakitkan.
Ketika satu janji terucap dihati pada saat menjelang Ramadhan kali ini untuk
menghilangkan sifat temperamentalku, pada saat itu pula aku dibuat untuk
meledakkan amarahku. Aku tetap mencoba bertahan untuk tak mengumbar emosi ini.
Karena kamu. Aku ingin Ramadhan kali ini benar-benar dapat meredakan amarahku.
Tapi seakan kamu malah menambah dendam yang membara.
Hembusan angin seperti menjawab
semua pertanyaan dan membawa amarahku pergi menjauh. Kuhela nafas untuk
melonggarkan sesak di dada ini. Kutunggu reda tangismu.
Aku hanya ingin tahu alasanmu,
kenapa kamu begitu mudahnya mematahkan hatiku yang telah terpaku padamu, dan
berjanji akan membawamu pada sebuah kebahagiaan dalam pernikahan.
Aku berdiri. Mencoba melemaskan urat
yang membuatku tak betah menghadapi kenyataan ini.
“Baik, rupanya kamu suka
mempermainkanku dengan cara seperti ini. Aku salah dalam menilaimu. Aku mengira
kau begitu lembut dan hebat. Tapi kau tak ada bedanya dengan …”
Aku tak kuasa menyebutnya. Tapi
memang aku begitu terbebani dengan kebisuanmu.
“Aku tak bermaksud mempermainkan
cintamu.”
“Lalu?”
“Aku sayang kamu.”
“Terus?”
“Tapi ….”
“Tapi kau tak mencintaiku?”
Kamu mengangguk.
Betapa anehnya. Baru kemarin kamu
menerimaku sebagai kekasihmu. Dan sekarang, di sini, di sungai ini, pada waktu
yang sama seperti kemarin, seperti saat kamu menerimaku sebagai kekasihmu, kamu
menghempaskanku dengan begitu dahsyat. Aku tak bisa menghindar.
“Lalu, kenapa kau mau menjadi
kekasihku?”
“Aku nggak mau menyakitimu.”
“Dengan merampas cintaku ini, kau
mengira tak menyakitiku?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Lalu?”
“Aku lebih mencintai yang lain”
Meledak seluruh alam, meledak
seluruh dunia. Ingin rasanya ku menampar mukamu, lalu kudorong hingga tercebur
ke sungai. Hingga mampus, ku tak peduli.
“Kenapa kau menerimaku, jika kau
telah mencintai yang lain?”
“Aku bertemu dengannya setelah aku
menerimamu.”
“Jadi ….”
Aku terbelalak, serasa benar-benar
kudipermainkan dengan begitu menyakitkan. Ingin saja niat jahatku kulampiaskan.
Tapi tidak, aku harus bisa menepati janji pada diriku sendiri untuk bisa
mengendalikan emosi. Kata-kataku lenyap di rampas kemarahan. Kau lebih memilih
dia setelah menerimaku. Begitu mudahnya kau menyakiti hatiku. Aku menjadi
heran, kau yang begitu dewasa, ternyata begitu mudahnya jatuh cinta. Ada
apa dibalik kelembutanmu itu?
“Bukan begitu maksudku. Seharian
kemarin aku berusaha berfikir jernih. Dan begitulah keputusanku, aku menemukan
kebeningan. Aku meninggalkanmu agar bisa lebih dalam mencintainya.”
Kucoba tegar dengan segala keadaan
ini. Ingin kudengar lebih jelas bagaimana maksudmu. Aku benar-benar tak mengerti
ada apa dalam fikiranmu. Cemburu yang begitu hebat menggelayut manja di jiwaku.
“Siapa yang beruntung mendapatkan
cintamu itu?”
“Sebenarnya aku yang beruntung
mendapatkan cintanya.”
Kamu lagi-lagi seakan berusaha
membakar hatiku hingga hangus. Kau tak menganggap sedikitpun dengan cintaku.
Kau memandang sebelah mata rasa cintaku ini. Bukankah kau juga seharusnya
merasa beruntung dengan cinta yang besar kuberikan padamu?
“Siapa dia?”
Aku tetap berusaha mencoba tenang,
mengenyampingkan temperamental yang menjadi bagian dari hidupku ini. Meski aku
benar-benar dibakar amarah.
Kamu diam. Benar-benar diam. Membuat
darahku mendidih.
“Siapa?”
Kuulangi pertanyaanku agar kau yakin
bahwa aku memang ingin tahu siapa sebenarnya yang telah merenggutmu dari hatiku.
Berusaha bersabar menunggu jawabanmu. Berusaha bersabar dan menerima segala
keadaan ini. Aku harus bisa mengendalikan amarah yang membuncah ini.
Kau hela nafas.
“Illahi.” Lirih ucapmu namun begitu jelas terdengar oleh telingaku.
Angin lembut berhembus. Burung
menghentikan kicauannya seakan juga mencoba mendengar ucapanmu. Angin
menyejukkan alam, menyejukkan hati.
Aku memahami.
Tak beraniku mencemburui Tuhan.
Rabu, 31 Mey 2006 07.05
WIB
Inspired by
kalimat yang diucapkan Donatus A. Nugroho “Tapi, siapa yang berani mencemburui
Tuhan?”
0 comments:
Post a Comment